Kita Kadang Terjebak Di Sini (Catatan Kuliah Hari Ini#1)

Pagi ini tidak ada yang istimewa saat saya memulai kuliah. Berangkat buru-buru, lupa sarapan dan… datang mepet dengan jam masuk kuliah. Alhamdulillah masih diberi kesempatan masuk kelas, karena dosen hanya beberapa detik lebih dulu masuk kelas dari saya. Kadang rutinitas seperti ini menjadi hal yang biasa bagi saya dan mungkin bagi sebagian pembaca lain. Kita kadang terjebak di sini. Bukankah kita bisa lebih baik dari ini? Semoga kesadaran saya membawa kepada kemauan dan tidakan nyata untuk perbaikan esok hari. Begitu juga dengan sahabat yang memiliki pengalaman serupa.

Kuliah Fisika Zat Padat Lanjut dengan topik pembicaraan yang tentu saja bagi sebagian besar orang sangat amat tidak menarik bahkan sekedar melirik. Pagi ini pembicaraan tentang materi yang dipandang secara kuantum dan klasik. Kita menyebutnya sudut pandang semiklasik. Asiknya kuliah ini tentu membuat otak bertabah keriting, karena sebagian besar kasus hanya berdasarkan asumsi dan pemodelan. Sebagi contoh aliran listrik hanya dijelaskan melalui model pergerakan elektron atau model partikel fiksi “hole”. Karena mustahil ada orang yang bisa mengambarkan aliran listrik setelah dia mengamati langsung listrik atau masuk ke dalam kabel. Mustahil kan?

Oke. Saya katakan asyik karena sesungguhnya ada pelajaran berharga disana. Tentang proses pembentukan asumsi dan model yang sangat teliti sehingga mendekati kondisi sebenarnya. Lantas akankah asumsi yang sering kita lontarkan untuk menunjang pendapat kita hanya sesederhana ini, “menurut saya…” atau “katanya..”. Tidak kan? Kita kadang terjebak di sini. Pengkajian aliran listrik tentu tak sekedar pendapat pribadi ilmuwan. Ada landasan-landasan referensi dan eksperimen di sana. Jadi, asumsi dan pemodelan yang kita jadikan sebagai pendapat perlu juga penguatan, baik dari referensi maupun pengalaman.

Kuliah kemudian diselingi intermezo tentang filosofi fisika yang salah. Mereka yang sedang makan bangku kuliah dan sekolah, banyak yang secara tidak sadar memahami tentang hukum,teorema atau persamaan dalam fisika yang menggunakan nama penemunya. Hukum Newton, Hukum Kepler, Hukum, hukum Ohm, dll. Banyak diantara kita sekali lagi secara tidak sadar atau bahkan sadar dengan kesesatannya. Yakni, meyakini bahwa tokoh-tokoh penemu inilah yang berhasil membuat alam menjadi teratur. Jika tidak ada rumusan-rumusan dari mereka alam menjadi kacau. Betulkah seperti itu. Kita kadang terjebak di sini. Ingatlah, Adanya Hukum Newton bukan berarti sebelum ada Newton alam ini berjalan tanpa aturan. Hanya saja, Newtonlah yang berhasil merumuskan kemudian mempublikasikannya kepada masyarakat. Lantas publik mengapresiasinya dengan menjadikan nama Newton sebagai hukum fisika yang dirumuskannya, begitu juga dengan hukum yang dirumuskan ilmuwan lain. Karena kita ingat ada Allah SWT yang tentu sudah mengatur alam ini, jauh sebelum Newton lahir. Dan apa yang diketahui Newton dan ilmuwan lainnya hanya sedikit dari ilmu-Nya. Jangan sampai muncul generasi Stephen Hawkins (kosmolog dan fisikawan teorotik). Karena dalam dua bukunya “A Brief History of Time” (1988) dan “The Grand Design” (2010)  menyimpulkan tidak perlu ada Tuhan untuk terjadinya alam semesta ini.

Iklan

5 thoughts on “Kita Kadang Terjebak Di Sini (Catatan Kuliah Hari Ini#1)

  1. Zen

    “Asiknya kuliah ini tentu membuat otak bertabah keriting,”
    *otaknya direbonding aja kalau gitu.. hehe ^^v

    Congratulations akh ayip atas keberhasilannya membuat blog ini.. semoga istiqomah selalu ^^

    Zen ~catatan peradaban~

    Balas
  2. iDa_941

    Ingatlah, Adanya Hukum Newton bukan berarti sebelum ada Newton alam ini berjalan tanpa aturan. Hanya saja, Newtonlah yang berhasil merumuskan kemudian mempublikasikannya kepada masyarakat. Lantas publik mengapresiasinya dengan menjadikan nama Newton sebagai hukum fisika yang dirumuskannya, begitu juga dengan hukum yang dirumuskan ilmuwan lain.

    giliran kita???
    insyaAllah…

    Keep Writing…!!

    Balas
    1. ayipmiftahaddurach Penulis Tulisan

      Hmm.. “Hukum Ayip” atau “Teorema Miftahuddin”.. pantes tdk ya??
      😉
      Jika nama kita tdk jadi hukum di Sains. setidaknya nama kita dikenal para siswa sbg guru yang membawa mereka mengenal Allah SWT dengan sains yg diajarkan.

      Balas

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s