Mahasiswa, Insan Tak Utuh

Kuliah merupakan istilah yang sering digunakan untuk menyebutkan proses pendidikan secara klasikal ditingkat perguruan tinggi. Kuliah disebut sebagai ajang berkumpulnya peserta didik (mahasiswa)yang lapar dan dahaga akan ilmu. Untuk melayani nafsu para mahasiswa, pihak penyelenggara pendidikan menghadirkan dosen sebagai fasilitator. Maka terciptalah transfer ofknowledge, transfer of value, transfer of culture,dan transfer of skill dari dosen ke mahasiswa sebagai akibat adanya proses pendidikan.

Mengutip pendapat Driyakarya, pendidikan merupakan proses mempersiapkan manusia ke taraf insan. Artinya, transfer of knowledge, transfer of value, transfer of culture,dan transfer of skill merupakan salah satu ikhtiar untuk membentuk peserta didik menjadi manusia seutuhnya. Dwi Siswoyo menjabarkan keutuhan yang dimaksud dalam arti sadar dengan wawasan dunia-akhirat, wawasan jasmani-rukhani, wawasan individu-sosial dan wawasan akan waktu.

Begitulah kuliah sebagai salah satu proses pendidikan memiliki fungsi yang sangat luas karena menyentuh segala sendi kehidupan. Namun, sangat disayangkan tidak semua mahasiswa menyadari dibentuk menjadi manusia utuh. Pemikiran bahwa kuliah hanya ajang mencari ilmu dipersempit dalam tembok program studi yang ditempuh. Wawasan yang didulang terkurung dalam disiplin ilmu. Jika dilihat dalam proses pendidikan, sebagian besar kuliah hanya dianggap sebagai transfer of knowledge. Akhirnya insan-insan tak lengkap yang hanya terisi wawasan dunia dan wawasan jasmani.

Selain pengetahuan disiplin ilmu, kegiatan-kegiatan menuju manusia utuh yang disebutkan Dwi Siswoyo perlu kembali diupayakan. Jika mengingat semester-semester tahun lalu akan sangat sulit untuk menjawabnya. Coba kita rasakan dalam semester kemarin saja, semester gasal. Sudah ingat?

lakso.files.wordpress.com

Jika belum ada juga hal yang kita ingat. Mungkin kesalahannya bukan pada ingatan, tapi memang sebenarnya tak ada yang diingat alias tidak ada hal yang kita dapatkan dalam kuliah kemarin. Hanya ada teori-teori dari disiplin ilmu kita yang memenuhi memori otak. Dimana, bisa jadi teori-teori itu sangat sulit diaplikasikan di kehidupan nyata yang sedang kita jalani.

Salah dosenkah? Nanti dulu. Bisa jadi dosen sudah memberikan nilai-nilai lebih dalam kuliahnya. Hanya saja terkadang hal itu tidak menyentuh ke jiwa kita atau tidak kita sentuhkan. Durasinya yang secepat kilat dibandingkan jam kuliahnya. Atau pikiran dari mahasiswa itu hanya sebatas intermezzo untuk memenuhi jam kuliah bisa jadi sebabnya. Alhasil, value, culture dan skill hanya sampai mengetarkan gendang telingga dan tidak sampai ke otak apalagi hati. Berlalu dan selesai saat itu juga.

Sebagai “industri” penghasil insan-insan cerdas dan bermoral, mutlak sangat dibutuhkan suasana kampus yang tidak hanya sekedar dibangun dari satu sisi. Khusuk dengan materi-materi kuliah, tapi melupakan aspek moral. Akibatnya si calon produk pun akan mengambil berbagai cara agar dirinya mendapat stempel cerdas. Ikut kuliah atau praktikum sampai lupa sholat, mencintai buku kuliahnya tapi kitab sucinya tak tersentuh dan berdebu, bahkan diakhir semester menyiapkan strategi menyontek. Moral sebagai hamba Allah dan bagian dari masyarakat hanya pelajaran-pelajaran mata kuliah umum. Astagfirullah.

Saya mencoba mengambil contoh ekstrim agar mata kita dapat terbuka. Ini mungkin ada disekitar kita.[]

Iklan

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s