Misionaris Narsis

 

"Stasiun Lempyangan" by 2.bp.blogspot.com

 

Perjalanan pulang ke Cirebon menjadi nuansa yang selalu dirindukan. Tiap sudut Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Kejaksan memang jadi objek yang sudah terekam di memori ini. Karena setiap kali melihat mereka. sesenti kedua ujung bibir ini terangkat. Heh.. saya akan berjuang.

Betul saja Sabtu (30/02) Progo penuh, tapi alhamdulillah karcis yang saya pegang terdapat tulisan K3-6 12C. Arti singkatnya, saya dapat tempat duduk. Tak berapa lama kursi nan keras saya duduki, si ular besi mengeliat malas membawa para penumpangnya menuju Senen, Jakarta. Tiupan peliut sang petugas KA melepas kepergian kami menyusuri potongan besi yang tak ada satu orangpun tahu tepat berapa panjangnya.

Karena dimohon untuk bertukar tempat, akhirnya 12C rela saya tinggalkan ke bangku di depannya. Tak masalah, toh saya pindah karena 12 B dan 12A ditempati ibu yang membutuhkan tempat lebih luas untuk menidurkan anaknya.

Di tempat yang baru ini saya berkenalan dengan Pak Yoto (60 thn) dan Mas Feb(sekitar 35 thn). Pertanyaan pertama yang hampir menjadi wajib, saya lontarkan. “Turun dimana, Pak?”. Dan perbincangan pun berlanjut.

Dalam pendahuluan si Bapak 60 tahun sangat banyak bercerita. Dia tinggal di daerah belakang Rumah Sakit Kristen Yogyakarta. Mengobati orang “sakit” adalah pekerjaannya. Satu lagi yang paling dia banggakan, “saya kenal pak Yusril, dia teman saya waktu masih muda”, sambil menunjukan sebuah kartu nama. Wah boleh juga nih bapak. Lumayan perjalanan 6 jam di kereta tidak bakal sepi. “Saya sudah banyak pengalaman”, kemudian di menyebutkan tempat-tempat yang pernah dia tinggali. Dia juga dengan bangga menyebutkan suatu partai yang akan dibelanya sampai mati. “Wah tidak sreg nih, tapi tak apalah toh dia mengaku agamanya Islam”, batinku.

“Semua agama itu mengajarkan kebenaran, hanya pemeluknya saja yang ngga bener. Saya paling tidak suka kalau ada orang yang suka menjelek-jelekan agama lain. Semua pemeluk agama akan masuk surga”. Tiba-tiba di tengah perbincangan kalimat itu keluar dari mulut pak Yoto. Mas Feb yang khusuk mendengarkan hanya mengangguk-angguk.
“Orang Islam banyak yang korupsi, kiyai yang banyak istri dan menikahi anak-anak, Imam Samudra CS ngebom sana-sini. Coba lihat agama lain mana ada yang seperti itu. Emang mereka itu pada edan.”
Sontak saya tidak terima, “bapak lihat di Indonesia yang banyak orang Islamnya. Kalo di negara sana yang sedikit Islamnya juga sama”.
Iya nggak gitu dek, ini pengalaman pribadi. Anak saya pernah dicolek  saat belajar ngaji dengan yang ngajarinya. Bejat nggak tuh, katanya ngerti agama tapi sama saja gilanya.
“betul itu pak” mas feb menyepakati kata-kata pak Yoto.
Ih, memang di sini yang lebih tua yang menang.

Kursi penumpang kereta ekonomi yang diseting berhadapan, memaksa saya mendeengarkan obrolan pak Yoto dengan Mas Feb. Sebenarnya ada orang lain yang entah tidak tahu namanya persis duduk di sebelah saya. Dia tidak ikut obrolan karena sedari tadi dudah menindih tangganya dengan kepala.Tidur. Meski rasa kantuk hebat mendera, pikiran tak mau singgah ke alam bawah sadar karena telingga terus terusik. Bukan karena deru kereta yang makin kencang saat melewati terowongan. Tapi apa yang diperbincangkan orang di depan saya sangat ngawur.

Pak Yoto kembali bercerita. Ibu saya katolik, namun istri saya dan keluarganya Islam. Pernah suatu waktu saya kerjain keluarga istri. Saya masak banyak untuk keluarga, saat itu ada keluarga besan datang. Kata keluarga masakannya enak. Jadi keluarga besan pun tertarik dan ikut makan juga. Sang keluarga besan pun membungkus makanan untuk mertua. Setelah pulang, dan memberikan bungkusan makanan kepada Bapak dan ibu mertua pak Yoto. Si keluarga besan kemudian balik kembali ke rumah pak Yoto dan meminta izin ingin ke toilet. Di depan toilet dia menemukan kepala binatang yang tergantung.
“To, ini kepala kambing opo anjing?” tanyanya berteriak.
Pak Yoto cengengesan menjawab, “lah menurutmu makanan tadi rasanya apa?”.
“SIALAN, tadi saya makan daging anjing, ini kepala anjing !!”
Si keluarga besan langsung pulang dan memberi tahu Bapak-Ibu mertua Pak Yoto. Naas, masakan sudah disantap. Keesokan harinya dari keluarga besan yang makan daging anjing masakan pak Yoto langsung sakit, karena tahu ini bertentangan dengan ajaran Islam.

“Keterlaluan”, batinku.
Ada kepuasan di raut muka Pak Yoto, sementara Mas feb dan orang disampingku tersenyum geli.
“Kok gitu sih, pak”, sambil menunjukan muka masam.
Sambil mereda tawanya, pak Yoto melanjutkan.” Itu dulu saat saya masih nakal-nakalnya. tapi menurut bapak, tidak ada tuh makanan yang dilarang. Kalo mau makan, makan saja. Islam saja yang aneh. Padahal daging yang dilarang Islam itu yang enak. Adek udah pernah makan daging kodok? kelelawar? Kucing?”
Ku gelengkan kepala dengan menahan perut yang mulai bereaksi.
“Ngomong-ngomong soal kucing, saya pernah punya pengalaman masak daging kucing dengan kawanku. Saat dimatiin, ih suaranya meraung-raung ngeri pak. Kalo saya sih, matiinya dengan membungkus kucing dalam karung, terus masukin ke drum yang ada airnya.”, mas feb angkat bicara dengan nada Sumatra Utaranya.
“KEJAM, sebenarnya kalian juga tidak kalah sadis dengan oknum yang di kesempatan awal disebutkan”, batinku.”
Obrolan berlanjut dengan kisah makanan eksrtrim mereka. Monyet kata mereka dagingnya juga enak, saat dikuliti mirip manusia. “kenapa tidak makan manusia saja sekalian, biar kaya sumanto” celetukku.

Hampir sepanjang perjalanan perbincangan Pak Yoto dan Mas feb menyudutkan umat islam. Meski mengaku Islam, pak Yoto lebih senang bersemedi. Dia juga sering menyuruh istrinya sholat derajat. Entah jenis sholat apa itu. Amalan andalan dia puasa. Sambil meledek ibadah puasa Ramadhan, dia menyebutkan dirinya lebih hebat. Puasa hanya makan buah, Puasa hanya makan nasi putih dan puasa hanya makan telo pendem lebih baik karena dilakukan sehari semalam selama berhari-hari.

“Terserah situ pak”, kebosanan turut dalam diskusi ini datang. Anak TK bernama Angga kini menjadi sahabat perjalananku. Anak laki-laki yang duduk di 12C sudah terbangun mengajak bercanda. Gelitik tawa darinya mengantarkan sampai ke Kejaksan, Cirebon. Kereta berjalanpelan saat memasuki stasiun. “Saya turun lebih dulu ya dan terimakasih” kuhaturkan kepada Angga, Mas feb, Pak Yoto dan orang yang duduk disampingku.

Keluar dan kereta dan kuhirup udara Cirebon yang basah kuyup. Saya harus banyak belajar.

 

Ad-Durach’s House, 1 Februari 2010 jam 11:12

Iklan

2 thoughts on “Misionaris Narsis

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s