“Suparman Pulang Kampung” Diresensi ala Ane

Hey Sob! Bagaimana nih kabarnya?? Semoga masih dalam keimanan Islam yang kokoh dan tak tertandingi. Upss.. ini bukan ikutan iklan semen, ya. Hmm.. kesempatan kali ini ane mau cerita sedikit tentang bacaan yang baru selesai dibaca. Bukan bermaksud pamer dan sok rajin baca buku. Tapi mau berbagi ilmu dan inspirasi yang sempat nyangkut di hati dan pikiran ane. Kali aje juga turut menginspirasi dan membawa kebaikan bagi sobat semua. Kan, ane juga kecipratan baiknya. Iya ngga, gan?

Oke. Kali ini tentang buku “SUPARMAN PULANG KAMPUNG”. Berasa mirip sama judul film “SUPERMAN RETURN”, trus kita mikir kali aja ada hubungan keduanya. Nah, berarti tujuan dari Boim Lebon, dkk sebagai penulis sudah berhasil. Dari logo sampai warna cover buku sudah Superman banget. Tapi kalau berharap ada cerita sang manusia super membasmi serangga, eh.. maksudnya membasmi kejahatan. Sorry Sob, kalian bakal kecewa. Sebab dalam buku ini ceritanya penuh humor pengocok perut, ngga ada perang-perangan. Dan Suparman Pulang Kampung ini adalah salah satu dari 11 cerita humor yang dihimpun dan dicetak Lingkar Pena Publishing House.

Ane katakan cerita humor yang ada di buku ini beda. Biasanya yang namanya humor, deket banget sama dunia saru, penghinaan dan pelecehan kondisi fisik. Ngga perlu ane contohkan, ya! Selain bikin dosa, sobat semua mungkin sering lihat di tv. Nah, buku ini beda. Kl mau ketawa kita harus mikir dulu, trus kalau dipikir lebih dalam akan menemukan pesan yang subahanallah. Duh, agak susah ngejelasinnya, baca aja penggalan kisahnya, deh. Monggo disimak.

Eh, tunggu..tunggu..ane kasih pengantar dulu biar sobat semua connect. Jadi ceritanya, ada anak cowok yang agak kemayu gitchu deh. Namanya Listiyo, tapi temen-temen sekolahnya manggil dia Lilis, bo. Lilis niey orangnya hebring gitchu dan dia punya teman namanya Dafta, yuuu.. Astagfirullah… kok jadi ikutan keriting sih. Ok, kembali ke jalan yang benar. Listiyo ini simpati dengan anak berjilbab namanya Nana, tapi nama lengkapnya bukan nana anjang atau nana endek,lho.hehe… Lha, si Dafta nyaranin Listiyo agar pacaran dengan Nana supaya ngilangin sikap feminimnya. Sewaktu Listiyo diajak ke Musholla ketemu temen-temen Nana, dia langsung diberondong pertanyaan sama si Dafta saat pulang sekolah.

“Musholla? ngapain?”

“Ngaji.”

“Ngaji?”

“Iya, gue disuruh Nana begitu dan katanya cara seperti itu lebih efektif untuk merubah kepribadian gue daripada gue harus pacaran…”

“Ah yang bener?”

“Iya, bener.”

“Buktinya?”

“Yah, selama gue gaul ama mereka, mereka sih menghargai gue banget, mengganggap gue bagian dari mereka, dan ini yang paling penting, ngga ada satu pun dari mereka manggil gue Lilis, Lilis… malahan nama gue diganti ikhwan gitu…”

GUBBRAAKK… Respon ane setelah membaca ini cerita. Itu hanya sepenggal. Penggal-penggal yang lain silahkan nikmati sendiri. Oya ane kasi tahu juga ini buku dialeknya Betawi banget.. Sumpeh, kuentel buanget kaya’ teh buatan ibu ane. Emang sih ya, bahasa Jakarte-an itu pas banget. Nyantai, lugu dan renyah dibuat guyonan. Sampe-sampe beberapa kali ane ikutan pake bahasa Jakarte buat bikin status di FB.

Buku yang ada tulisan BEST SELLER ini sayangnya belum dicetak pake kertas HVS. Komik yang dibonuskan pun ngirit banget. Delapan halaman berukuran kecil dan terpisah dari bukunya. Coba kalau menyatu dengan buku dan lebih banyak. Karena sebagai buku humor, SUPARMAN PULANG KAMPUNG termasuk minim gambar.

Salut dech buat Mas Boim dan 9 kawannya. Sebagai antalogi kasih untuk korban becana di Jogja, ane rasa berhasil deh mengobati saudara-saudara kita yang terkena musibah. Membuat senyum di bibir-bibir yang kini, insyaallah dekat tasbih,tahmid dan takbir.

Buke Boarding House, 30 November 2010

Pukul 00.17

Iklan

5 thoughts on ““Suparman Pulang Kampung” Diresensi ala Ane

  1. iDa_941

    siip2!
    tapi bahasa resensinya sepertinya jadi ketularan bahasa penulis bukunya y…
    ya gpp…

    jadi ingat,,
    pernah baca “Betty Ta’ Iye’ “??
    itu novel jg lucuuuu banget
    penuh dg kisah2 konyol jaman sma
    tapi mgkn lbh cocok dibaca saat kita sma

    banyak hikmah yg jg bisa kita ambil

    Balas
    1. ayip miftah ad-durach Penulis Tulisan

      sengaja, mba..
      mau coba teori “banchmarking”..
      nikmati bacaan-ikuti gaya menulisnya-dalami-buat gaya sendiri.
      itu kata pak Faudzil di buku Dunia Kata..

      wah boleh tuh buku Betty Ta’ Iye..
      Itung2 refresh setelah terus2an baca buku yang buat dua alis bertemu
      Selain itu, menambah perbendaharaan humor juga.. he..

      Balas

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s