DiKre#5 Des

Pukul 04:31

Kabar Indonesia menang  melawan Laos di turnamen AFF kemarin cukup menggemparkan. Beberapa koran bahkan mencatumkannya sebagai headline. Beberapa talkshow di tv pun tak lupa membahas performa Irfan Bachdim dkk. Ini kejadian langka. Semua larut dalam euforia. Saatnya kebangkitan sepakbola Indonesia, begitu katanya.

Bayangkan Timnas Indonesia yang beberapa waktu lalu terseok-seok, kini begitu mudahnya memenangkan pertandingan. Sebelumnya saja menang telak melawan negara Upin-Ipin dengan angka 5-1. Sebuah hasil yang bombastis dan memuaskan. Dan kemarin timnas bisa mencapai angka 6-0 melawan Laos.

NATURALISASI. Sebuah fakta sekaligus wacana yang menjadi penyebab kemenangan beruntun bagi Indonesia. Naturalisasi adalah menjadikan warga asing menjadi WNI agar dapat membela timnas Indonesia. Dari wacana ini ada pernyataan mengelitik. Kalau begitu, kita bisa menakar kualitas para pribumi yang sudah lama di bumi pertiwi ini ya. Hmm…

Tunggu-tunggu. Kalau maslahnya di SDM pribumi, bagaimana kalau semua bidang yang bermasalah di bangsa ini juga melakukan NATURALISASI? Apakah itu juga bisa menjadi solusi?

Pukul 06:08

Masih terpikir hubungan antara kemenangan Indonesia dengan kerupuk. Kalau bingung kenapa harus dengan kerupuk, serta apa istimewanya benda ini. Sahabat harus baca dulu DiKre#4Des. Kemenangan kesebelasan Indonsia adalah barang langka. Sehingga sekali saja kelangkaan itu diraih. Euforia pastilah telah meledak di penjuru negeri.

Hubungannya dengan kerupuk? Apa kerupuk juga barang langka. Bukan itu. Kita menyebut kerupuk sebagai benda bersensasi tinggi tapi minim substansi gizi. Meski tepung mengandung karbohidrat dan mineral ditemukan di garam dapur. Tapi prosentase terbesar dari kerupuk pastilah angin. Jika tidak ada rongga-rongga udara di dalamnya, sensasi itu akan hilang. Kita sering menyebutnya mlempem. Sekarang lihatlah nilai gizi dari segenggam angin.

Nah, kemenangan Indonesia ini bisa jadi hanya sekedar sensasi dan tanpa substansi. Maksudnya adakah pengaruh yang luas dari kemenangan ini dengan kondisi bangsa yang carut-marut. Belum tentu kan? Tapi pastinya efek kebanggaan dan kebahagiaan sesaat sudah membumi. Namun tetap saja kasus si “penonton tenis” yang fenomenal belum selesai. Bank yang overdosis dan mati dengan suntikan dana Rp. 6,7 T hampir terlupa. Kalau kasus pertarungan DePe dan JuPe mah memang patut segera dihilangkan dari berita.

Jadi, akan sangat disayangkan kita larut dalam sensasi ini. Substansi perjuangan di berbagai aspek kehidupan harus secara nyata terus dilakukan. Karena tak kan kenyang dan sehat tubuh kita jika hanya mengonsumsi kerupuk. Meski nikmat betul. Kresh..kresh.. kriuk.. kriuk..

Bantul, 5 Desember 2010

Iklan

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s