Demam Pemilwa Para Kontraktor

Ringkihan pintu kamarku yang baru dibuka mengisi udara kontrakan yang dingin. Masih tertinggal jejak kegiatan malam di dalam kamar. Buku-buku bertebaran di sana sini membuat derajat ketidakteraturan kamar makin besar.  Akibatnya,

“Ya ampun.. ini cowok jorok banget. Ini kamar apa kapal pecah sih. Dapet istri yang brewokan baru tahu rasa….” teriak Ody ketika melirik kamar. Handuk dipundak dan rambut basahnya menandakan salah satu ritual pagi telah selesai digelar.

Mahasiswa penyiar radio kampus ini memang aktivis dan pengamat kebersihan di kontrakan kami Hampir setiap pagi teriakannya tidak jauh-jauh dari hal itu. Setiap sudut kontrakan yang jauh dari kata bersih dan rapi, tak akan luput dikomentarnya. Jika tak ada penghuni yang tergerak hati dan tangannya. Dengan sangat terpaksa diikuti nada komentar yang lebih tinggi, Ody membersihkannya seorang diri.

Sementara Ody sibuk dengan siaran paginya dengan tema kamarku. Saya perhatikan Ikhsan sudah asyik di depan komputernya. Headset besar ditelingga membuat kabar berita tentang “kapal pecah” tak menganggu aktivitasnya. Biasanya bukan musik aliran pop apalagi rock yang didengar pengurus rohis kampus ini. Tampak sekarang mulutnya komat-kamit, hampir dapat dipastikan dia mengikuti dzikir pagi yang dilantunkan dari Windows Media Player.

“Eh, bro lihat ini?” Tepukan Aan di pundakku cukup mengagetkan.

“Apaan sih, An?” Kini si penyiar ikut penasaran.

“Pamfletnya Mas Yusuf, keren kan? Ini gue yang design lho. Kalau tampilan kampanyenya aja kayak gini. Yakin deh dia bakal jadi ketua BEM tahun depan.”

“Dibayar berapa lo sama dia?” Aku mulai alergi dengan obrolan yang ditawarkan Aan, menyambar gelas dan mengisinya dengan segelas air putih lebih menarik bagi saya.

“Iya, An. Kamu dapat apa sih dari Mas Yusuf? Kok mau-maunya jadi tim suksesnya.”

Hallo… kalian pikir saya penganut money politic. Tidak, kawan. Ini masalah nurani dan kesamaan visi. Dan saya temukan di Mas Yusuf. Ayolah… ini edukasi politik praktis bagi kita.” Intonasi Aan sudah berubah layaknya para politikus negeri ini yang retorikanya makin canggih.

“Ya emang bener pendidikan untuk masuk ke praktek politik. Ujung-ujungnya lo pada pinter politik dan mainin duit rakyat.”

“Iya, An. Bener tuh kata Bayu.”

“Eh… Ody, kreatif dikit napa. Dari tadi ngikut kata-kata gue mulu.”

“Ih… sorry yee.. emang gue mau ngomong gitu kok. Mulut-mulut gue. Kenape lu yang sewot.” Emosi Ody membuat warna suaranya dari berubah penyiar menjadi pemain lenong.

“Kalau yang suka sewenang-wenang. Itu oknum, men. Jangan disamakan ke semuanya, donk. Apa kalian nggak ngelihat yang peduli sama rakyat, kan ada juga. So, saat pemilwa nanti. Lo cari tuh pemimpin yang kaya gitu.” Aan sediki melunak dengan aksen gaul yang dipaksakan.

Tapi tidak dengan apa yang saya tangkap. “Dan lo bilang itu ada di Yusuf, si anak masjid itu. Pokoknya pemilwa ini  gue nggak akan milih siapa-siapa.”

Perbincangan pun berubah menjadi perdebatan kusir. Aan yang mulai berlagak jadi politikus kampus sering membabi buta membela teman-teman organisasinya. Jujur saya mulai gerah. Apa yang dikatakannya tidak ada dasar literatur. Menurutku…, perasaanku…, atau pokoknya… jadi landasan ucapannya.

Melihat teman-temannya yang makin panas. Ikhsan memilih untuk turut campur dalam masalah ini.

“Eh.. ada apa ini. Kamu kok kamu marah-marah, Bay.”

“Sorry, San. Gue emosi. Gue enneg ngomongin politik di kampus kita. Pemilwa lah.. Kampanyelah.. Inilah.. Itulah.. Semuanya nggak ada gunanya bagi hidup gue.”

“Ya itu menurutmu, Bay. Tapi perlu kita tahu bahwa pemilwa itu untuk cari pemimpin. Dan pentingnya kepemimpinan jelas kita yakini keberadaanya. Bahkan kita diminta menunjuk seorang pemimpin perjalanan diantara tiga orang yang melakukan suatu perjalanan. Sekarang apa yang harus kita lakukan untuk memilih pemimpin mahasiswa di kampus kita? Kalau kamu tidak menggunakan hak pilihmu, jangan salahkan kalau terpilih pemimpin yang tidak amanah dan kampus kita jadi rusak. Kalau sudah begitu, memperbaiki rusaknya kampus itu jadi kewajibanmu juga.”

Penjabaran panjang mahasiswa berjenggot tipis dihadapanku masih menimbulkan tanda tanya di kepalaku. “Kalau nggak ada calon pemimpin yang baik menurut gue, gimana tuh? Gue bakal bertanggungjawab juga kan dengan contrengan dibilik suara.”

“Lo pengen nungguin ada pemimpin ideal menurut kacamata semua orang? Keburu mati dulu lo.” Celetuk Aan.

“Ihh.. Aan apain sih pagi-pagi udah ngomongin mati. Oya San, di radio kampus sedang rame nih ngomongin calon yang ngebawa-bawa kekuatan agama ke politik kampus. Gimana, tuh?”

Kali ini pertanyaan Ody cukup berbobot dan kusetujui dengan manggut-manggut.

“Jadi dasarnya, pemimpin yang kita pilih itu harus memiliki dua aspek. Kekuatan dan Ilmu. Istilah ustadz di pengajian, al-quwwat dan al-‘ilm. Pertama, memiliki kekuatan berupa kekuatan fisik dan kekuatan memutuskan sebuah perkara. Ini supaya sang pemimpin tahan banting. Kedua, memiliki ilmu pengetahuan yang luas, baik tentang medan tempurnya, intelektualnya dan tak lupa agamanya. Memang kalian tidak mau dibimbing pemimpin yang mengantarkan ke kebaikan. Terakhir, kalau kalian masih menganggap Islam hanya ada di ritual ibadah. Betapa sempitnya Islam itu. Kalian belum khatam buku Al-Islam yang saya pinjamkan, ya? Sekarang bukunya dimana?”

Kami bertiga saling melirik dan memamerkan senyum kuda. “Di gue, San. Iya deh segera gue khatam-in biar bisa ngomong banyak tentang Islam kayak lo. Tapi gue cari dulu, mungkin ada di kamar.”  Pengakuanku masih dengan muka kuda.

“ASTAGFIRULLAH….. !!! SUDAH JAM SETENGAH TUJUH !!!  KULIAH PAGIKU !!!” Kehebohan Ody kembali mengejutkan kami.

BRAKK… Bantingan pintu kamar Ody dilanjutkan suara gaduh didalamnya, tanda sang penghuni sedang tidak bisa menunggu satu detik berjalan tanpa sebuah tindakan.

“Makanya mandi itu nggak pake acara semedi. Mandi dari jam lima baru kelar sekarang.” Balasku mengomentari Ody.

“Tenang, Dy. Kan masuknya jam tujuh. Masih ada waktu.” Ikhsan coba menenangkan sembari mengetuk pintu kamarnya.

“Dasar Mr. Perfecto. Hahaha…” Tambahku seakan mengomandoi kami untuk membubarkan diri yang sedari tadi berdiri di depan kamar.

Meski masih ada beban di kepala, namun rasanya sudah sedikit lebih ringan. Hmm.. pemilwa memang ada setiap tahun. Dan setiap tahunya tampu kepemimpinan akan “diperebutkan”.  Selain memiliki niatan yang bersih, cara untuk memperolehnya pun harus indah. Insyaallah saya akan memilihnya. Semoga keshalihannya dapat memberkahi organisasi mahasiswa kampusku.

“Woy, siapa yang masak mi di magic com. Udah jadi bubur nih…” Teriaku dari dapur.

“Waaaaa!!… saya…punya saya…”

Kini giliran Aan melanjutkann kehebohan di pagi hari. Sontak penghuni lain tertawa melihat aksinya.

Justice Boys Boarding House| Pringwulung 375

Iklan

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s