Antares

Tulisan ini merupakan lanjutan dari kisah Biruni sebelumnya yang berjudul: “Aldebaran dan Betelgeuse”.

Saran bagi yang belum membacanya, lebih baik mengikutinya terlebih dahulu.

Bisa klik link  berikut https://ayip7miftah.wordpress.com/2011/01/02/aldebaran-dan-betelgeuse/

Kelam langit malam belum semuanya beranjak pergi. Ia malas untuk pulang ke peraduan sebelum sang matahari benar-benar menduduki singgasananya. Tak tahukah ia, jingga di ufuk timur menandakan sang bintang tata surya  yang akan segera tiba. Atau ia begitu menyepelekan matahari yang terlahir tidak begitu  solid. Ia tak jauh dari rapatnya air, hanya terpaut 402 kg/m2 saja. Tapi seharusnya ia tak boleh begitu angkuh, Allah telah mengatur segalanya dengan sempurna. Justru Matahari terbuat dari gas-gas yang super panas atau biasa disebut plasma pasti punya keuntungan. Bayangkan, dengan kerapatan 1402 kg/m2 saja manusia di khatulistiwa  dan daerah gurun sering merasa “terpanggang”, apalagi jika lebih rapat lagi. Bisa saja semua makhluk tak mampu hidup. Subahanallah…

Pikiran liar saya mempersonifikasi pemandangan langit di pagi ini. Nikmat betul melihat fajar di atas balkon laboturium yang luasnya sepuluh kali kamar kos ku ini. Huhh… Bintang yang tak bisa teramati malam tadi baru menampakan diri. Rupanya sangat kusam terhalangi kabut pagi dan awan hujan sisa semalam. “Kenapa engkau baru muncul, hah?”

Penghuni taman di depan laboraturium pun sudah mulai beraktivitas. Mungkinkah mereka sama sepertiku yang menikmati pagi ini dengan menatap langit. Agaknya bisa saja. Atau kicauan itu  jusru sebuah omelan burung betina memarahi anaknya yang masih tertidur. Atau teriakan sang jantan yang terlambat pergi ke sawah karena kesiangan. Hahaha… pikiran liarku hadir kembali di kepala.

“Rupanya kau disini, Biru.” Suara Pak Joko dari balik punggung mengagetkan lamunan. Pak Joko merupakan laboran di jurusan Astronomi, Institut Teknologi Yogyakarta. Tepatnya ia pengelola laboraturium terbuka ini dan perpustakaan yang tepat berada di bawahnya. Karena pintu menuju balkon yang terhubung dengan perpustakaan, maka ia juga diberi amanah sebagai kepala perpustakaan jurusan.

“Eh iya, Pak.”

“Kamu sudah shubuh-an belum?” selidik pria yang sudah melewati hidup selama setengah abad ini.

“Sudah dong. Tadi kan di masjid kampus saya jadi makmum Bapak.”

“Iya, toh?”

Saya cukup akrab dengan pria yang satu ini. Meski hanya kenal selama satu tahun lebih beberapa bulan. Namun kedekatan kami tidak sekedar mengetahui nama. Alasannya, karena satu tahun lebih beberapa bulan itu saya sering membersamainya jaga malam di perpustakaan. Namun, untuk malam tadi ia tidak berada di perpustakaan karena harus ada yang dipersiapkan untuk hari ini.

“Pagi-pagi begini sudah rapi, memang ada acara apa Pak?”

“Lha kamu ini gimana, toh. Jadi mahasiswa kok ngga up to date sama informasi kampus. Ngutak-ngutik tugas boleh, Khujandi itu. Tapi yo pandanganmu itu juga untuk sekitarmu, dong. Sama kampus aja ngga ngerti, gimana sama Negara. Biruni… Biruni…”

Huff.. Sebuah ceramah pagi yang bukan menjadi jawaban dari pertanyaanku.

“Kamu beneran ngga tau toh? Jurusan kita kan mau kedatangan Ilmuwan Internasional tapi orang Indonesia. Lulusan sini lho. Namanya Profesor Khujandi. Huebat toh?” Aksen ngayogyakrto Pak Joko makin kentel saat bicaranya makin semangat.

“Prof Khujandi itu bukan lulusan India ya? Dia orang India kan? ”

“Wuaduuh… Kok sama ilmuwan bidang keilmuwanmu juga kamu ngga up to date toh le. Dia orang sini. Simboknya tinggal  di daerah Pundong. Sudahlah kamu pulang ke kos dulu. Saya tadi mau nyuruh kamu begitu. Kalau ngga ngecek ke balkon, mungkin kamu sudah terkunci dari bawah.” Kini Pak Joko menarik tangan saya agar segera bangkit dan menuruti kemauannya.

“Jadi Prof Khujandi mau kesini. Acaranya jam berapa? Kok mahasiswa seperti saya ngga diundang?” “Halah… yang jadi peserta acara para dosen. Nanti  jam delapan. Hayoo…” Pak Joko malas menjawab dan mulai mendorong badanku ke arah tangga yang menuju perpustakaan.

Amazing. Ilmuwan Internasional ada di kampusku. Alumni sini lagi. Pasti bisa jadi jaringan untuk batu loncatan.  “Pak, nanti saya boleh datang?”

Yang ditanya tidak mengubris. Pak Joko sedang sibuk memeriksa gudang disudut balkon.

***

Prof.  Khujandi memiliki nama lengkap Khujandi Sumarjan. Lahir dan dibesarkan di Yogyakarta kemudian menimba ilmu di India hingga menjadi peneliti di sana. Tergabung dalam lembaga antariksa ANTARES sejak masih kuliah. Lembaga ini seperti NASA milik Amerika Serikat, bedanya ANTARES tidak dimiliki oleh satu Negara. Ada berbagai Negara yang terhimpun didalamnya seperti: India, Pakistan, UEA, Qatar, Jepang, Cina, Korea, Malaysia, Turki dan Iran. Memang semuanya dalam territorial Asia. Namun kelak lembaga ini ingin menghimpun seluruh negara dari berbagai latar belakang. Mungkin jika ada negara di luar angkasa akan diajaknya juga bergabung. Hihihi.. usil simpulanku.

Nama Prof. Khujandi lebih dikenal kalangan akademisi sebagai Khujandi Antares. Nama belakang ini sebenarnya diambil dari nama lembaga tempat ia mengabdi. Ia dikenal luas dalam setahun terakhir dengan tulisan-tulisannya di Jurnal Ilmiah. Salah satunya koreksi terbaru pengukuran jarak bintang terhadap bumi via paralaks. Paralaks adalah pergeseran yang teramati dari suatu benda terhadap latar belakang akibat perubahan posisi pengamat. Akibat gerak Bumi mengelilingi matahari, bintang terdekat nampak bergerak relative terhadap bintang di latar belakang. Gerakan ini yang disebut sebagai stellar parallax (paralaks bintang) atau annual parallax (paralaks tahunan). Hmm.. saya bergumam, “ini persis di materi dasar Astronomi semester pertama”. Saya lanjutkan membaca artikel yang ada di sebuah situs.

Karena jarak Bumi-Matahari diketahui, kita dapat mengukur jarak bintang dengan paralaks. Kemudian jarak bintang tersebut dihitung dengan membandingkan jarak bumi-matahari dengan sudut paralaksnya. Namun, metode ini hanya mampu mengukur bintang dengan jarak di dibawah 1600 tahun cahaya. Setelah itu ditemui kesulitan karena sudut yang dihasilkan hampir nol. Padahal jumlah bintang di luar itu sangat banyak dan menarik untuk diteliti.

“HEYYY, MALAH MAIN INTERNET !”. Kembali suara Pak Joko berhasil  mengagetkanku. “Perpusnya mau ditutup, ayo pulang.”

“I…ii..ya, Pak..!” Tergesa saya menutup LCD, mencabut adaptor dan memasukannya dalam tas. Tak tahu  siku tangan menghantam tumpukan buku yang meninggi disamping dan….BRAAKKKK ! ! !

***

Masih ku usap siku yang ngilu sembari berjalan kaki menuju kos-kosan. Jarak kampus dengan tempat tinggal yang kusewa tak begitu jauh. Kurang lebih 500 meter.  Jadi, kaki beralaskan sepatu merupakan metode transportasi paling efsien bagi mahasiswa sepertiku.

Sembari berjalan dengan kecepatan rata-rata 4 km/jam saya harus meluangkan waktu 7,5 menit untuk berjalan. Tak lelah, karena energi yang dibutuhkan tak lebih dari 50 kkal. Kalau bosan, tentu saja. Membuka SMS, membalasnya, membaca diktat kuliah atau jurnal terbitan terbaru menjadi aktivitas yang sering saya pilih. Tunggu… kuhentikan langkah dan tangan yang merogoh tas untuk mengambil buku.  Suara dari salah satu kalimat Pak Joko kembali beresonansi di telingga.

 “Lha kamu ini gimana, toh. Jadi mahasiswa kok ngga up to date sama informasi kampus. Ngutak-ngutik tugas boleh. Tapi yo pandanganmu itu juga untuk sekitarmu, dong. Sama kampus aja ngga ngerti, gimana sama Negara.”

 Sebegitu parahkah saya selama ini. Baiklah pagi ini saya berjalan dengan pandangan tertuju pada sekitar. Jadi mahasiswa memang harus punya sensitifitas yang tinggi. Kelak siapa yang akan mengantikan pemimpin bangsa ini kalau bukan kita, mahasiswa. Kalau dengan kampus saja tidak peduli, bagaimana dengan Negara. Semangat saya berkobar. Rasanya seperti berada dalam arena OSPEK dulu. Kalau saja tidak segera tersadar bahwa saat itu berada di samping tukang kebun yang sedang bekerja. Pasti saya sudah berteriak, HIDUP MAHASISWA!! Sembari mengepalkan tangan dan terangkat  empar puluh lima derajat. Hihihi..

Baru satu kali kaki terayun dan menyentuh tanah. Terbelalak mata pada baliho besar di depan fakultas. Disana tertulis…

ASTRONOMY DEPARTEMENT proudly present INTERNATIONAL LECTURE with Prof. Khujandi (ANTARES) .

Tubuhku makin lemas saat membaca lanjutan pengumuman tersebut.

Available 50 chairs for lecturers and students  who selected.  Submit your paper’s theme “Astronomy and Social Life”. Deadline: two weeks before International Lecture.

Ya Allah… benar kata Pak Joko saya sudah terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Papan besar di sisi jalan yang hampir tiap hari saya lalui saja baru sekarang terlihat. Bagaimana dengan masalah negara ini yang menyerupai atom. Kasat mata namun jika energinya terakumulasi memiliki daya ledak maha dahsyat.

Tak mau larut dalam penyesalan, saya bertekad dapat mengikuti kuliah umum Prof. Khujandi. Meski belum memegang tiket masuk. Meski bukan 50 orang terpilih. Tapi saya punya karya tentang astronomi dan pendidikan yang berbulan-bulan dikerjakan. Saya harus bisa ikut. Saya harus bertemu Sang ANTARES.

Iklan

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s