Masakan Hati

Siapa bilang masakan yang kita makan hanya sekedar benda pengisi perut. Atau hanya dijadikan obat sakit perut paling manjur di waktu lapar. Sebanarnya ngga salah, cuma terlalu sempit mengartikan masakan hanya sebatas itu. Karena eh karena, ada banyak sekali hal yang terkandung dalam makanan, terutama yang dimasak oleh orang yang mencintai. (Cieee..) Hush.. kali ini yang dibahas hanya cinta Ibu kepada anaknya. (Yaaahhh…)

Kelezatan sebuah masakan ternyata tidak hanya memberikan stimulus kepada indra perasa di lidah, lho. Tapi juga bisa sampai pada indra di hati. Karena sebuah masakan bisa menjadi alat komunikasi untuk bahasa hati. (Ah, lebay..) Eiiitss.. ngga juga. Buktinya banyak orang yang pernah punya penggalaman tentang hal yang satu ini. Pernah saat pulang kampung, seorang teman rindu masakan Ibunya, misalnya capcay. ( lho kok capcay? hiihi.. ada udang di balik sawi, nih). Sewaktu di rumah, ia tidak pernah mengucapkan kata capcay dari mulutnya. Meski keinginan makan capcay sudah mencapai derajat “ingin sekali”. Namun, meminta dibuatkan suatu masakan, sangat sungkan ia lakukan. Sewaktu jam makan malam datang, ia agak malas pergi ke dapur untuk memanggul piring. Tapi ketika membuka tudung saji. Waiilaaa… that is capcay special ala Chef Ibu. Ada capcay di sana, bertabur bawang goreng di samping tempe yang juga goreng. Hmm… butiran bening kini tampak bergelayutan di ujung matanya. Oh ya, saat itu Ibunya juga sedang memotong bawang bombay di dapur. (Yeee.. kirain nangis karena terharu, hehe)

Masih ngga percaya kalau masakan juga ekspresi cinta? Ok. Baiknya sahabat semua membaca tulisan saudaraku Burhan Sodiq dalam bukunya “Bunda, Maafkan Aku.” Lets cekidot !!

***

Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Nenek ringkih dengan kebaya bermotif kembang itu tampak sedang memegang sebuah kantong plastic. Hitam warnanya dan tampak lusuh. Saya duduk di sebelahnya, di atas sebuah metromini yang menuju stasiun KA.

Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan guratan gambar peta sungai, berkelok-kelok.

Hmm.. dia tampak tersenyum pada saya. Saya pun balas tersenyumm. Dia bertanya, “Mau kemana.” Saya pun menjawab, “Mau kuliah.” Sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.

“Minyak goreng.” Jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian sembako. Pantas ia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk mendapatkan minyak itu.

Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu akan dipakai untuk menggoreng tepung buat cucunya. Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya. Itu pun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa mendapat minyak dan tepung gratis.

Degh! Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang nenek rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya. Sang nenek memberikan saya hikmah yang dalam sekali.

Saya teringat Ibu. Allah memang Maha Bijak. Sang Nenek hadir untuk menegur saya. Sudah beberapa saat sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saj. Mungkin, karena saya yang terlalu sok sibuk dengan semua urusan kuliah. Sering saat pulang kerumah, saya menemukan nasi goring yang masih tersai di meja, yang belum saya sentuh sejak pagi.

Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan, Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya buat saya. Dia juga pasti akan menambahkan doa-doa dan keinginan yang terbaik buat saya. Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur dan menguleni, sama seprti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuhnya dengan lembut, mengelus, seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.

Metromini telah sampai. Setelah mengucap salam pada nenek itu, saya pun turun. Namun, saya punya keinginan hari iru. Mulai esok hari, saya akan menyantap semua yang Ibu berikan buat saya. Apapun yang diberikannya. Karena saya yakin, itulah bentuk ungkapan rasa cinta saya padanya. Saya percaya, itulah yang dapat saya berikan sebagai sebuah penghargaan buatnya. Saya berharap, tak aka nada lagi makanan yang tersisa. Saya ingin membahagiakan Ibu.

Iklan

4 thoughts on “Masakan Hati

  1. siddiq

    Pertama LUCU masa piring “dipanggul”, atau bagaimana aku membanyangkan seorang Miftah Ad-Durach jika makan saja ia panggul alat makannya, kebayang tu makanan.

    dibalik kelucuan itu, tetap hentakan tiap katanya menyentuh, mengingatkan, dan menggairahkan.

    mari meloncatkan ia juga bibalik seorang Ibu

    Balas

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s