Malam itu mungkin ada benarnya

Krutuk… Kretek….

Ah,,, lega rasanya setelah acara meng-“ngulet”-kan pingang ke kanan dan ke kiri. Kekakuan yang menempel sedikit terobati setelah sendi di tulang belakang dipenuhi keinginannya.

Ufhh. hari ini berbeda dari jam biologis saya. Kalender menunjukan hari Sabtu, tapi aktivitas kali ini tak jauh beda dibandingkan lima hari sebelumnya. Bahkan lebih. Padahal dulu Sabtu saya dulu jadi awal dari akhir rutinitas. Ya, tepatnya dua pekan yang lalu.

Kini, satu proses menjadi guru “peradaban” harus menjalani prosesi ini. Mengabdi di sebuah kawah candra dimuka. insyaallah dari sini akan lahir pendekar-pendekar baru yang siap bergulat untuk ALLAH.

Berbeda dengan para kawan yang lain, hari ini layar saya putar tak searah angin. Sengaja melewati beberapa pulau tak berjamah. melihat terumbu karang yang jarang teramati. Menghirup aroma laut, angin dan cahaya matahari sore itu. Penuh dan kuat. Kuhembuskan dan seluruhnya. Hingga timbul suara membangunkan camar yang sedari tadi mengintai di ujung layar.

Kembali ke pinggangku yang sudah reda kekakuannya. Kuning senja sudah sirna dari dinding bangunan kos. Maghrib tiba. ” Tak boleh tertinggal takbir-nya imam”, azzamku.

Naas, saya kembali tertinggal. Kali ini ada azzam ganda. Kembali berjanji.

Memenuhi lapar dan dahaga hati ini. Ah.. nikmat betul racikan-Nya. memang ” jika hati ini bersih tak akan pernah kenyang menikmati fimanNya”. Dilanjutkan penyegaran jasmani.. Wuih.. kesegaran ganda, deh..

Ber-SMS memang butuh waktu khusus. Perjalanan menuju masjid jadi waktu yang tepat. Jalan tanpa teman bicara sejauh 100 m sangat membosankan. Yups… lebih dari 18 orang saya kirimi SMS dalam waktu itu. Efisien kan?

Pulang dari masjid. “Senam jari lagi”. Maaf ya kadang sampai acuh sama teman saat berpapasan. Ini sedang konsentrasi, Bung. Hmm.. hanya 3 orang yang saya kirimi SMS.

Kruyuk.. Kruyuk..
Giliran di depan pinggang yang menagih jatahnya. Okelah, Bung. Ku tahu maumu. Eitss.. tidak sekedar pemenuhan kebutuhan jasmani. Agendanya saya optimalkan juga untuk makanan ruhani. Melakukan kebiasaan buruk yang semoga menjadi kebaikan.

apa itu?

melakukan “pemborosan ala ikhwah”. Ya, acara mentraktir ikhwah lainnya. Semoga ini menjadi perekat jalinan hati kami. Karena hati-hati ini bertemu mencurahkan rasa cintanya hanya kepada Mu.

Obrolan panjang. Menjajaki tiap tangga ukuwah. Nyaman dengan lingkaran. Dalam kondisi berislam bukan sekedar aliran. Emang ada aliran ya? Grojogan aja sekalian biar besar.

Berpisah dan saling mengingatkan. Merindukan pertemuan yang akan datang. Semoga dalam kondisi yang lebih baik.

Menuju ruang dengan ratusan komputer. Melepas lelah sejenak. Ingin membiarkan jari-jari ini menari kembali. Melatihnya (lagi). Agar ada jejak-jejaknya yang patut memeberikan kontribusi bagi umat. Hingga detik ini saya biarkan menari. Terhenti. Dan kembali menari.

Iklan

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s