Pelajaran dari Kejadian di 09/05/2010

Microteaching, matakuliah yang harus kujalani di sore ini. Awan telah berubah menjadi kelabu, tapi aktivitasku masih tak bedanya di pagi hari. Tiga hari lagi agenda besar lembaga yang aku ikuti akan digelar. Alhasil, persiapan harus disiapkan guna kelancaran acara. Meski raga sedang bersama dengan sang ketua lembaga untuk mengurusi administrasi agenda di rektorat, pikiranku telah melayang di ruang kelas. Sore ini giliran saya mengajar, namun persiapannya masih belum dapat dikatakan setengah matang sekalipun.

Tetesan air dengan kecepatan konstan akhirnya yang jatuh langit. Makin lama, makin deras. Pikiranku pun makin resah menatap hujan. Hufh.. kami hanya bawa satu jas hujan, jadi dengan terpaksa menunggu menjadi pilihan. “Bagaimana dengan microteaching-ku, bahan mengajar saya tinggal di kos teman lagi”, keluh batinku.

Sepuluh menit lagi kuliah akan dimulai. Deru hujan akhirnya mereda. Helm terpasang, nyalakan mesin dan gas motor ditancap. Suasana kampus UNY kuyup. Perpustakan telah dilewati dan kami putar setir ke kiri menuju Student Center. Tiba-tiba pemandangan tak lazim tampak di jalan antara kampus FMIPA dan Tennis Indoor FIK. Air  deras melaju dari utara.

Astagfirullah… kampus banjir”.

Mata kami terbelalak. Ini pasti karena hujan tiga puluh menit-an tadi ditambah kiriman air dari daerah kampus yang mulai minim resapan.

Tak ada pilihan lain. Motor tetap diarahkan lurus ke arah barat. Kami menerobos genangan air sedalam lima puluh centimeter dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam. Mahasiswa yang sedang tidak kuliah tampak “menikmati” pemandangan langka ini. Mereka kadang terkekeh melihat pola para pengendara motor yang nekat menerobos banjir. Karena takut sepatunya basah, para pengendara motor mengangat kakinya setinggi mungkin. Salah satu bahan tertawaan mereka adalah kami.

Di saat melepas sepatu karena lelah mengangkat kaki. Sang ketua lembaga yang menjadi supir sangat berhati-hati menghindari cipratan air dari para pengendara lain. Namun..

Braakk..

Seorang ibu terjatuh dari motornya. Persis di belakang kami. Motor kami dihentikan dan spontan membantu membangunkan sang ibu dan motornya. BYURR.. Upss.. Sepatu belum sempat selesai saya lepas. Dan..  Sebuah mobil lewat di samping kami, menyiramkan air banjir tepat di celanaku. Mata mahasiswa dan orang sekitar tertuju pada kami, atau tepatnya saya.

Kami berdua memutuskan mengantar sang ibu dan motornya ke daerah Samirono. Naas, jalan yang kami lalui diantara lapangan athletik dan parkir FMIPA tak jauh beda. Banjir juga. Alhasil, makin lambatlah laju motor kami.
***

Akhir cerita, bagaimana dengan mictroteaching saya? Semua pasti tahu jawabannya. Tapi, subahanallah dalam saat-saat seperti itu memiliki kenikmatan tersendiri. Sibuk dan lelah, memang. Tapi sekali lagi sulit menerjemahkan arti kebahagiaan di dalamnya. Allahu ‘alam.

Iklan

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s