HASKA 0 Km [part I]

Akhir 2007 tapi awal dari cerita

Kala itu makin tersadar bahwa saya berada dalam lingkungan orang-orang aneh. Bahasa mereka tak lazim. Jika memanggil temannya yang putra, selalu didahului A’. A’Fulan, A’Yusuf dan sebagainya. Apa mereka sangat menyukai budaya Sunda, sehingga panggilan kepada temannya begitu sopan, Aa’Furqon atau Aa’ Yusuf. Jadi bangga juga sebagai anak Jawa Barat.

Keanehan berlanjut saat para mahasiswi putri dipanggil ukhti, belum lagi ada kata antum. Apa lagi ini? Makin jelas ini semua bukan bahasa Sunda. Kalau atum mah ada, itu nama kue favorit saya. Tanda tanya makin menghuni kepala. Sebenarnya siapa mereka. Tapi mulut yang sering disebut “interuptor” kali itu bisa saya tahan, ikuti dulu saja. Toh saya sudah terlanjur mengikuti agenda mereka. Mereka menamakan agenda ini SATELIT IX. Hah Satelit? IX?

SATELIT IX sungguh berbeda dari acara-acara lainnya untuk mahasiswa baru. Aroma persaudaraan begitu kental terasa baik antar peserta ataupun peserta-panitia. Ini bukan acara yang biasa. Belum lagi, saat agenda penutupan yang terkesan sedih dan mengharu biru. Mereka seperti menyambut saudara-saudara baru yang akan menghuni rumahnya. Saya pun akhirnya bisa benar-benar mengetahui maknanya beberapa tahun yang akan datang.

Awal hingga pertengahan tahun 2008  yang penuh semangat

Saya kemudian masuk ke dalam sebuah “rumah”. Tak besar, hanya sekitar 2X7 meter, tapi penghuninya mencapai angka seratus. Kok bisa ya? Kembali karena rasa itu makin terasa. Ukhuwah, begitulah kita menyebutnya. Bukti bahwa Islam itu indah makin nyata.

Senyum panitia dan simpatisan panitia BAKMI

Kami mulai berjibaku dengan aktivitas di kampus. Mengelar kegiatan, membuat perlombaan, tak lupa mengadakan pengajian. Lelahkah saya? Banyak orang berpandangan pasti kelelahan. Pagi hingga siang kuliah berSKS-SKS, lantas dilanjutkan rapat atau syuro serta kegiatan yang jauh lebih banyak SKSnya.

Kami mengatakan ini aktivitas meraih ridha tertinggi. Kelelahan fisik itu pasti, tapi tidak dengan hati ini. Ruh kami terisi oleh penawar kelelahan bernama ukhuwah itu tadi. Lihatlah bagaimana kami berinteraksi. Kami berusaha mengucapkan sesuatu dengan kata-kata yang terbaik, meski pada momen-momen tertentu panggilan bro, sorry, dan bahasa daerah jadi bumbu penyedapnya.

Menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah kepada pengurus yang lain. Segala prasangka, tak perlu jadi bahan perbincangan utama. Contohnya bagi mereka yang jarang terlihat dan berkontribusi, lantas tidak dikenakan stempel keluar dari barisan. Tidak demikian. Tetapi diajaknya berbicara dari hati ke hati. Dikunjungilah kosnya, diajaklah makan-makan, atau dibuatlah acara penyolidan lainnya, jalan-jalan atau rihlah misalnya.

Rihlah perdana kami di kepengurusan 2008

Menjadi orang-orang baru di rumah ini bukan berarti tanpa tantangan. Karena si bungsu pun tak selalu bersama para kakak-kakaknya. Batu-batu permasalahan itu muncul dan harus kami pecahkan sendiri.

“Aduh, pembicaranya tidak bisa datang…..”

“Lho kok pesertanya sedikit ……”

“Acara kita molor lagi………”

Tak sedikit hal baru yang kami temui saat itu. Namun sengaja tak banyak saya ceritakan. Karena semuanya seolah dalam kejap terobati. Dengan apa? Ya itu tadi, yang sudah saya sebutkan berkali-kali. Ukhuwah.

Menjelang akhir 2008 ada sejarah

“Akhi, mentoring antum masih jalan?” Tanya salah seorang pengurus ikhwan kepada saya.

“Emm.. Kan sudah selesai semester kemarin.” Jawabku lugu.

Lha kepiye, masa da’i ngga ngaji. Kan ada lanjutannya, akh. Coba antum tanyakan ke tutornya. Kalau belum ada jawaban, biar antum ikut saya dulu saja. ” Tegasnya

“……..” Saya masih dalam kebingungan.

[bersambung]
__________
*HASKA merupakan sebutan untuk Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam   tingkat fakultas di FMIPA UNY. Nama lengkap lembaga ini adalah Himpunan Aktivitas Kajian Agama Jama’ah Musholla Al Furqon atau HASKA JMF.

Iklan

6 thoughts on “HASKA 0 Km [part I]

  1. m anriyan

    wah jadi nostalgia, aroma yang sama juga terasa saat masih kuliah dulu, kebetulan saya ikut tutorial PAI ( saat ini lebih dikenal dengan istilah mentoring, kalo ndak salah), satu-satunya tutor yang setia membimbing saya selama kurang lebih 2 tahunan kuliah, adalah akrab disapa dengan nama bang ali, kalo ndak salah beliau dulu dijurusan teknik (aktif di KAMMI) … banyak kisah menarik saat bersama beliau mulai dari ngaliwet, itikaf, hingga naik gunung merbabu….

    saat naik gunung merbabu juga menjadi momen menarik tersendiri, disaat kelelahan atau semangat mulai turun maka serempak kami mengempalkan tangan sambil mengucapakan ALLOHU AKBAR…

    Aroma ukhuwah selalu menjadi penyemangat kami untuk terus solid..

    oh ya follow back saya di twitter @ fivenyn, saya sudah foll back antum.
    sekalian di facebook juga.. nama ana lima ryan, kalo masih kuliah nanti ada hal yang ingin saya minta bantuannya di tanyakan ke pengurus masjid dkm mujahidin.

    Balas
    1. ayip7miftah Penulis Tulisan

      Wah.. Mas Riyan eh.. Pak Riyan angkatan berapa??
      Saya masih jadi anak kampus. Alhamdulillah masih suka bantu-bantu di Ta’mir Mujahidin juga. Pripun, ada yang bisa dibantu??

      Balas

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s