Seri Bullying: Mamat dan Teman Kelasnya

Pada liburan sekolah kali ini, bimbingan belajar tempat saya mengajar mengadakan agenda Program Liburan. Sebuah agenda dimana kami para tentor diminta untuk memberikan pelajaran bagi siswa kelas IX SMP. Sungguh bersemangatnya para siswa itu. Di saat kawan-kawan sebaya asyik liburan. Mereka harus merelakan masa liburnya untuk terus belajar. Bukan dengan guru yang biasanya lagi.

Ditengah menyaksikan wajah ceria para siswa, saya temukan satu wajah yang berbeda dengan yang lain. Semenjak sesi perkenalan, wajahnya sering tertunduk dan tersenyum kaku. Oh mungkin karena sifatnya, simpulanku saat itu. Saya pun melanjutkan pembelajaran seperti biasa, hingga sampai pada kalimat.

“Kalian sudah terbiasa mengukur dengan penggaris, kan? Ayo yang belum bisa ngaku saja?”

Satu orang siswa langsung berkata, “Ngaku aja, Mat. Mamat belum bisa loh Mas!”

Yang ditunjuk bernama Mamat adalah si senyum kaku yang makin salah tingkah.

Hahahaha… Sekelas kompak tertawa.

“Sudah… sudah…”

Ah… hanya guyonan anak SMP pikirku. Lanjut saya terangkan materi demi materi. Suara cekikikan dari beberapa siswa saya abaikan. Toh tidak begitu mengganggu. Sampai pada saat papan tulis sudah penuh dengan gambar, symbol dan angka-angka, saya berujar.

“Sebelum saya hapus tulisannya, silahkan apa yang ada di papan tulis dicatat dulu.”

Tak lama muncul celetuk siswa, “Mat dicatet, Maaattt”

Disambung perintah siswa lain yang lebih bernada mengejek “Iya tuh Mat dicatet, punya bullpen ngga??? ”

Hahahaha… kembali kelas diisi tawa terbahak.

Belum juga tawa berhenti, siswa lain menimpali. “Kalian jangan gitu, tar Mamat nangis lho. Kalau nangis kan susah berhentinya.”

Hahaha….

“Eh, lihat Mamat nangis tuh…”

Diangkatnya kepala si Mamat, “Engga kok, ini kelilipan”.

Hahahaha… tawa makin menjadi.

Sungguh bersalah jika saya mendiamkan suasana seperti ini. Saya ambil alih kelas dan berkata, “Eh… diam… diam. Kalian ini kenapa sih? Mamat sudah jangan dengarkan.”

Bhuuaahhahahahaha…. Genap sudah tawa sekelas. Bahkan siswi yang duduk di depan dan sedari tadi diam, kini ikut cekikikan. Ternyata nama Mamat yang disematkan si senyum kaku adalah julukan dari nama aslinya yang sangat bagus.

***

Nah, sahabatku semua. Apa yang saya saksikan di atas adalah gambaran yang seringkali terjadi di kelas. Bisa jadi hal itu juga sedang dialami pelajar di sekitar kita. Dari kisah itu saya akan mencoba berbagi tentang kasus si Mamat yang lebih dikenal dengan istilah bullying.

Istilah bullying sendiri mencakup berbagai bentuk tindakan untuk menyakiti orang lain sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tak berdaya. Tindakan ini semacam teror yang berupa kekerasan fisik atau mental, pengucilan, intimidasi, perpeloncoan. Tindakan bullying sendiri dapat berupa tindakan dalam bentuk fisik, seperti memukul, mencubit, menampar dan memalak ataupun bentuk verbal seperti memaki, menggosip dan mengejek, serta bentuk psikologis seperti mengintimidasi, mengucilkan, mengabaikan dan diskriminasi.

Pihak yang melakukan  bullying tidaklah harus memiliki fisik yang kuat, tapi bisa juga kuat secara mental. Sedangkan sang korban bullying adalah pihak yang tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya karena lemah secara fisik atau mental. Misalnya ada seorang siswa mendorong bahu temannya dengan kasar, bila yang didorong merasa terintimidasi, apalagi bila tindakan tersebut dilakukan berulang-ulang, maka perilaku bullying telah terjadi.

Dampak yang diterima dari bullying berbeda dengan konflik antar siswa biasa. Konflik pada anak biasanya terjadi antara siswa yang memiliki kekuatan fisik ataupun mental yang sebanding. Sedangkan bullying merupakan tindakan menyakiti dan dilakukan secara berulang, korban biasanya anak yang lebih lemah dibandingkan dengan pelaku.  Beragam penelitian  menunjukkan bahwa siswa yang menjadi korban akan mengalami kesulitan dalam bergaul, merasa takut datang ke sekolah, mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran dan kesehatan mental maupun fisik jangka pendek maupun panjang mereka akan terganggu.

Sepatutnya para guru dan orangtua lebih memperhatikan kasus yang satu ini. Karena pada umumnya korban bullying malu untuk menceritakan apa yang dialaminya kepada orang lain. Kasus si Mamat adalah tindakan bullying yang masih tergolong ringan. Namun kita tidak boleh abai. Walau hanya dengan kekerasan secara verbal, apabila mental si Mamat tergolong lemah dapat dipastikan beragam dampak bullying sudah ia derita. Kemudian hal ini menjadi rentetan tindakan bullying lain yang akan ia alami karena kondisi mental yang makin melemah.

Menjadi tugas tambahan bagi para guru kita lebih peduli dengan siswa kita. Siapa yang bisa memastikan bahwa tidak ada mamat-mamat lain yang sekarang sudah mulai takut untuk masuk sekolah. Atau bagi yang sudah pernah menangani kasus seperti ini, silahkan berbagi. Terimakasih.

Iklan

7 thoughts on “Seri Bullying: Mamat dan Teman Kelasnya

  1. siddiq

    kala secara mental sebanding, biasanya jadai pamor orang yang “diejek”, seperti brand kalau dalam strategi pasar, apakah ini juga masuk kasus tersebut,… tp apapun namanya “ngejek” itu tidak selayaknya dilakukan (kasus maskot dakwah fise).

    Balas
    1. ayip7miftah Penulis Tulisan

      kl mental sdh drop, dimanapun dia berada, bs jadi sasaran diejek.
      krn orang bermental ciut akan terlihat dari wajah dan gerak-geriknya.
      eh.. saya belum pernah dengar tuh ttg maskot di fise.

      Balas
  2. Sukajiyah

    Duh, kasihan si Mamat…
    Di sekolah, seorang guru harus bisa mengambil sikap bijak agar bullying tidak terjadi.
    Sekolah adalah tempat anak2 mencari ilmu bekal hidupnya kelak, so jadikan sekolah tempat yg aman, nyaman, tenang dan menggembirakan bagi anak2 kita.
    Salam kenal.. 🙂

    Balas

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s