Lorong Waktu Pantai Depok

Setelah penat bergelut dengan pelajaran dan anak-anak. Kantor bimbingan belajar tempat saya mengajar memberikan vakansi untuk tentor dan karyawan. Memang sangat perlu menyegarkan pikiran menghadapi awal semester mendatang. Mengenai tempat, koordinator  sempat menyebutkan beberapa alternatif. Namun, keputusan jatuh pada Pantai Depok. Hahhh.. Depok. Wah, so something for me.

Terang saja saat angin laut mulai menyentuh, terik matahari menyengat dan aroma ikan merebak. Pikiran di kepala saya langsung masuk ke lorong waktu. Empat tahun lalu saya pertama kali mengenal tempat ini. Banyak hal sudah saya lewati di sini. Tak butuh lama otak memanggil memori yang tersimpan. Hmmm… Agar tak kehilangan momen ini. Langsung saya ambil posisi yang paling pas. Duduk, menatap laut.

Ombak yang besar jadi ciri khas pantai selatan

Tenang adalah efek ajaib saat melihat horizon.

Kali pertama saya menatap Samudra Indonesia adalah bersama teman se-asrama. Lucu juga pengalaman waktu itu. Kami bermalam di pantai. Menunggu matahari terbit, ceritanya. Namun malang betul kami. Sedari shubuh gerimis turun seolah menertawai. Kecewa sudah dan kami pulang kedinginan berjas hujan. Barulah matahari menampakan diri tatkala kami mendengkur di asrama.

Canda anak-anak mengingatkan saya pada teman-teman dulu.

Kesempatan kedua merasakan pasir depok, ketika teman-teman di kampus mengadakan rihlah. Agenda rekreasi menyela kesibukan berorganisasi. Ketiga dan beberapa terusannya masih dengan orang kampus. Satu yang saya ingat, masih juga tentang agenda organisasi. Pembubaran panitia. Wah… wah… Terlihat seperti aktivis ya. Padahal?

Nah, berikutnya kembali saya menghabiskan malam di pantai ini. Bersama teman-teman tempat saya mengaji. Agendanya cukup memberi kesan sampai sekarang. Kami membeli ikan, mendirikan tenda, membakar ikan, dan tidur di atas pasir beratapkan langit. Lho tendanya? Karena kedinginan, kami akhirnya kembali tidur di tenda.

Seorang kakek dan cucunya yang tak lelah bermain air.

Melihat seorang gadis kecil berlari ditemani pria yang tak lain rekan tentor jenjang SD membuat saya tersadar.  Kini saya sedang duduk lagi di pantai ini. Berstatus satu dari rombongan kantor bimbingan belajar. Padahal kemarin masih asyik membakar ikan sebagai mahasiswa tahun ketiga. Kemarinnya lagi masih serius ikut organisasi, dan kemarinnya lagi  masih bergagah-gagah ria memakai jas almamater baru di asrama.

Waktu memang cepat berputar. Kita harus mampu mengiringinya dengan momen gaya yang sama. Agar tiap perubahan waktu, ada amal yang akan kita torehkan. Begitu nasihat yang masih hinggap di benak saya.

Masih saya menatap laut, tiba-tiba saja melintas dua orang tepat di depan mata.

Hadeuuuhh.. Pegangan tangan. Muhrim belum tuh??

Huhh… hilang sudah selara merenung. Lebih baik kembali ke rumah makan saja. Sembari melangkah menuju rekan-rekan yang lain. Terlihat keramaian orang-orang menonton nelayan yang pulang dari laut. Eitsss…  saya menangkap dua orang lagi. Tapi kali ini beda dengan yang nyelonong di depan mata tadi.

Dua sosok di tengah keramaian, ahai....

Hemmm… Akankah saya kembali ke pantai ini dengan…… Etttt… ettt…. Astagfirullah, cukup sampai di sini saja saya berangan. Hehe.

Hai Depok, kita lihat saja nanti.
Iklan

3 thoughts on “Lorong Waktu Pantai Depok

    1. ayip7miftah Penulis Tulisan

      Pantai Depok itu satu komplek dengan Pantai Parangtritis.
      Letaknya di Kabupaten Bantul, DIY.
      Kl mendengar Depok, memang identik dengan kota di selatan Jakarta itu ya Pak.
      😀

      Balas

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s