Mengaji Sedari Dini Pasti Happy

http://yaiz2004.wordpress.comLangit malam Jogja masih menurunkan hujan. Sejak siang awan mendung sudah mulai menggantung di angkasa, alhasil hujan akan lama untuk reda. Itulah yang menyebabkan setelah menyelesaikan sholat maghrib, beberapa jamaah masih tetap bertahan di masjid. Sebagian  memanfaatkan untuk tilawah, sebagian yang lain tengah mengobrol dengan sesama jamaah. Saya sendiri masih mengambil posisi duduk. Setelah menyelesaikan wirid, lantas memutar pandangan ke sekitar ruangan. Maklum, masjid di sisi utara Jalan Wonosari ini baru pertama saya singgahi.

Ketika pandangan mengitari ruangan masjid, tampak hal yang menarik untuk lama saya amati. Sekelompok anak-anak berusia belasan tahun tampak riuh di salah sudut masjid. Tak selang berapa lama kemudian mereka duduk dengan membentuk formasi lingkaran. Tak hilang dari pandanganku, ternyata seorang pria muda berjenggot tipis menjadi pusat pandangan mereka. Ohh… mereka sedang mengaji.

Melihat pemandangan seperti itu, meminta perangkat di kepala saya memanggil memori yang masih tersimpan di otak. Ruangan yang saya diami kini seolah-olah beranimasi fade dengan latar suara gemericik hujan. Lantas tampilan sedikit demi sedikit berubah menjadi ruangan surau suatu kampung di Cirebon. Ahh… ini suasana di mana saya menginjak usia sekolah dasar.

Setiap selesai maghrib saya mendapat pesan dari orang tua, “Harus mengaji di musholla dulu, tidak boleh pulang ke rumah apalagi bermain.” Tidak tanggung-tanggung, ancaman sanksi sudah menghadang apabila perintah dilanggar. Mulai kena omelan sepanjang malam, mengungkit beragam kesalahan hingga tidak dapat uang jajan. Dan ternyata, saya tidak sendirian. Teman-teman sebaya pun mendapat “ancaman” yang sama. Alhasil, berkumpullah anak-anak kampung yang akan menghabiskan waktu maghrib hingga isya di musholla.

Guru mengaji kami baru selesai mengucapkan salam di sholat ba’diyah maghribnya. Mas Yitno, begitu kami menyebut pria muda berperawakan kurus yang terkenal pandai membaca Al Qur’an ini. Belum juga Mas Yitno beranjak dari duduknya, kami semua sudah berebut duduk di depan meja kecil yang biasa dijadikan tempat mengaji. Siapa yang menempati posisi terdepan, ia berhak mendapat giliran pertama menunjukan kebolehan membaca Al Qur’an atau IQRA, sesuai dengan kemampuannya saat itu. Nah, Mas Yitno akan bertugas mengoreksi bacaan kami dan memberi arahan tentang hukum-hukum bacaan.

Selesai giliran membaca Al Qur’an, tak lantas membuat sebagian kami langsung pulang. Padahal, perintah orang tua telah kami jalankan. Meskipun sebagian yang lain setelah membaca shodaqallahul ‘adzim langsung angkat sarung dan berlari keluar musholla. Kemana? Ada banyak pilihan. Bermain petak umpet, kejar-kejaran atau sekedar jajan dan duduk di pinggir jalan.

Nah, anak-anak yang tersisa di masjid sampai adzan isya, boleh dibilang adalah anak didik kesayangan Mas Yitno. Karena setelah semua santri selesai menunjukan perkembangannya membaca Al Qur’an, Mas Yitno seringkali menyampaikan beberapa kalimat bagi kami. Tentang apa saja. Misalnya, seputar ibadah praktis, kisah para Nabi, pesan untuk menghormati orang tua,  rajin belajar di sekolah dan lainnya.

Pernah juga suatu waktu kami mengadakan piknik bersama. Kalau saat ini dikenal dengan sebutan rihlah. Seingat saya sudah tiga kali kami rihlah, yaitu ke perpustakaan, pasar musiman dan perpustakaan lagi. Rihlah yang paling meninggalkan kesan tentu saja ketika pergi ke perpustakaan. Maklum saat usia itu, saya baru pertama kali melihat gedung yang diisi banyak buku.

Namanya PERPUSTAKAAN 400, perpustakaan umum milik pemda Kabupaten yang kini masih terletak di Jalan By Pass. Saat itu kami ditempatkan di ruangan baca anak-anak. Wah, betapa girangnya kami melihat deretan buku bacaan dengan gambar menarik. Buku yang saya pilih adalah Seri Tokoh Dunia terbitan Gramedia. Sepertinya Allah sudah membuat skenario yang sangat indah di bagian ini. Dari semua Seri Penemu Dunia yang berjejer, saya memilih membaca kisah hidup ISAAC NEWTON dan WALT DISNEY. Seorang fisikawan dengan “apel jatuh”nya dan kartunis legendaris dengan “Mickey Mouse”nya.

Suara gelak canda kami belasan tahun lalu seolah terdengar kembali saat ini. Oh, rupanya suara anak-anak itu benar-benar nyata. Namun berasal dari anak-anak di pojok masjid. Kesadaran saya kembali hadir ketika mereka ditanyai ustadz berjenggot tipis dengan kalimat “Bagaimana sholatnya hari ini? Bolong-bolong ngga?” Lantas sebagian yang lain tiba-tiba terhentak dan menahan rasa malu.

***

Sahabatku, penggalan kisah di atas semoga memberikan gambaran ternyata proses mengaji itu teramat menyenangkan dan mengesankan.  Pengalaman di lingkaran Mas Yitno telah menjadi bekal saya dalam beraktivitas selama ini. Pesan yang disampaikan mungkin sepele. Tapi inilah yang dibutuhkan saat usia anak-anak dulu. Diajaklah juga kami keluar untuk mempraktekan segala teori ketika melingkar. Belajar di perpustakaan dan berinteraksi di pasar.

Ah… Mas, itu kan jaman dulu. Jaman saat kamu kecil. Beda dengan sekarang. Saat ini anak-anak susah di atur. Inginnya main terus. Kalau tidak ya mereka nonton TV. Pokoknya beda sekali dengan jaman dulu.

Sahabatku, tengoklah lingkaran kecil di sudut masjid yang baru saya temui. Mereka pun sama menikmati. Mereka rela meninggalkan playstation, handphone atau komputer. Bukankah sama seperti kami saat itu meninggalkan petak umpet dan kejar-kejaran?

Saya tekankan di akhir tulisan ini. Mari ajak adik, anak, saudara atau diri kita sendiri untuk mengaji sejak dini. Bergabunglah dalam lingkaran kecil untuk mendalami indahnya agama ini, saling menasehati dan menguatkan iman. Terutama bagi Sahabatku yang masih berusia muda. Inilah bekal yang benar-benar kalian butuhkan untuk menjalani hidup. Dan untuk para orang tua, jangan halangi kami untuk mengaji. Dukunglah kami. Ancamlah kami jika kami lalai. Insyaallah manisnya hidup sebelum dan setelah  mati dapat kita raih dalam ridha Ilahi. Aamiin.

Iklan

6 thoughts on “Mengaji Sedari Dini Pasti Happy

  1. Zen

    zaman sudah berubah, saat ini sudah masuk era web 2.0, begitu kata pak yusuf maulana 😀 tugas kitalah utk mengarahkan adik2 kita di era yg serba modern ini.. kita harus bisa menarik mereka ke masjid meski kita harus bersaing dengan playstasion atau apapun namanya.. bernostalgia boleh, tp kita tetap harus berbuat dan bergerak membawa perubahan ke arah yg lebih baik 🙂

    Balas
  2. Zack Amirullah

    melihat kultur jaman sekarang, memang agak jarang melihat TPA-TPA yang setiap maghrib hingga isya dipenuhi oleh anak-anak kecil nan lucu yang sedang membaca iqra dan alquran. Ga seperti dulu yang kegiatan maghrib hingga isya ini sudah menjadi rutinitas biasa yang bahkah dianggap “tabu” jika meninggalkannya..

    Alhamdulillah saya dapet kesempatan untuk mengajar anak kecil di sebuah madrasah. Sulit diatur memang, tapi keinginan belajarnya luar biasa. Wondering, apakah dulu saya juga senakal itu.. Haha

    Smoga majelis-majelis ini senantiasa terjaga dimanapun dan kapanpun 🙂

    Balas
  3. am

    subhanallah sekali, yah..! melihat anak-anak antusias mengaji …inget dulu saya masih kecil ..begitu semangatnya untuk mengaji ..pulang isa..hmm..jaman sekarang ..ya.. itu lah ..

    Balas

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s