Pendahuluan Memandang Kantor Pajak

Beberapa hari terakhir satu instansi pemerintah ini marak diperbincangkan masyarakat Indonesia. Mulai dari acara talkshow di stasiun televisi sampai obrolan angkringan di dekat stasiun kereta api. Apalagi kalau bukan tentang direktorat perpajakan.

Hmm… saya ungkapkan dulu alasannya kenapa sampai ikut-ikutan membicarakannya di blog ini. Pertama, rumah yang saya huni saat ini letaknya persis 50 meter di belakang kantor perwakilan pajak untuk provinsi DIY. Terus? Nah, hampir tiap hari saya masuk dan berinteraksi dengan pegawai disana. Untuk bayar pajak? Oh tentu tidak, jadi di kantor tersebut terdapat masjid yang cukup besar. Karena masjid kampung letaknya lebih jauh. Maka saya dan tetangga sekitar rumah memilih lebih sering sholat di masjid kantor perpajakan. Dari situlah saya rasa perlu menuliskan sisi lain tentang wajah para pegawai di instansi yang cukup basah ini.

Kedua, alasan yang sangat subjektif sih. Belakangan nama saya disebut-sebut memiliki rekening gendut dari hasil mengelapkan pajak. Tidak tanggung-tanggung angkanya mencapai 12 M. Ya nama pemilik rekening yang sekaligus pernah menjadi pegawai pajak ini adalah Ajib. Maka makin inginlah saya menulis perkara ini. Hehe.. maaf bagian tidak begitu penting.

Baiklah sahabatku, saya jadi teringat satu pesan yang pernah disampaikan Ibu pada suatu waktu. “Yang namanya manusia pasti tidak akan pernah kenyang dengan uang”. Jika diberi sebukit uang, pasti ia akan meminta segunung. Begitu seterusnya. Maksudnya? Seperti kita ketahui bahwa gaji yang diterima pegawai negeri sipil (PNS) di Departemen Keuangan –termasuk bagian perpajakan- sangat mengiurkan. Sampai-sampai sewaktu duduk di bangku SMA, siswa berlomba-lomba agar bisa kuliah di sekolah tinggi yang lulusannya di tempatkan di departemen ini. Katanya, ketika awal-awal masuk dan berpangkat rendah saja gajinya sudah lumayan fantastis. Hmm… Bandingkan dengan gaji guru PNS berpangkat rendah, apalagi yang honorer. Ahh…

Kembali ke topik. Gaji fantasitis pegawai pajak sepertinya tidak mencegah air liur mereka untuk menetes. Alhasil masih ada keinginan untuk mendapatkan uang yang lebih. Kenapa ya? Bisa jadi gaya hidup para abdi negara ini sudah terkena virus hedon layaknya para seleb. Pernah ada liputan tentang lapangan parkir sebuah instansi pemerintahan di Jakarta. Apa yang terlihat? Sebuah showroom mobil. Maksudnya lapangan parkirnya jadi dealer atau showroom mobil, begitu? Tidak-tidak ini pengibaratan, jejeran mobil-mobil PNS yang sedang parkir itu seperti  mobil-mobil kinclong yang sedang dipajang. Mohon jangan tanya tipe dan merek mobilnya, karena saya bukan tipe penghafal mobil orang. Yang jelas disebutkan harganya kisaran ratusan juta sampai milyaran. Huhhh… begitulah potret para abdi di negara “kaya” ini.

 Lantas apa yang tampak di kantor perpajakan Yogyakarta? Apakah juga demikian?  Saya rasa tidak. Tidak jauh beda. Hehe.

Seiring dengan banyaknya informasi yang masuk ke kepala. Kemudian muncul dalam pemikiran saya satu sosok yang bernama OKNUM. Ia adalah sosok jahat di segala tempat. Penampakannya bisa bermacam-macam. Bisa menjadi seorang pria gendut berkacamata dan memakai wig atau pria kurus minimalis berlesung pipi  yang suka senyum-senyum manis atau yang lainnya.

Nah sahabat, pada postingan berikutnya insyaallah akan dibagikan cerita tentang suasana satu kantor pajak. Satu pandangan dari balik kaca mata saya yang hampir tiap hari presensi lima sampai sepuluh menit ke kantor ini. Maaf saya akhiri dahulu tulisan ini karena harus mengajar. Hehe. Sampai bertemu di postingan berikutnya.

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s