Bangga Jadi Pengajar

Hari ini kalender menunjukan tanggal 2 Mei, dimana pada tanggal ini pemerintah kita menjadikannya sebagai Hari Pendidikan Nasional. Seperti pada hari peringatan sebelumnya, timeline di twitter pun turut dibanjiri kicauan tentang pendidikan. Namun, pagi ini ada satu tweet yang cukup menarik untuk saya bahas dalam blog ini. Kurang lebih bunyinya sebagai berikut:

“Disamping KI HAJAR DEWANTARA, ada banyak tokoh pendidikan lain, sperti KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan.” –  @husainiadian

Hmm… Iya juga. Sedari kecil kita sering disempitkan bahwa gelar pahlawan pendidikan hanya pada Ki Hajar Dewantara. Namun, bangsa kita ini tentunya tidak terlahir atas tangan satu orang pendidik, bukan? Nah, terbukalah wawasan bahwasanya ada banyak tokoh-tokoh yang dahulu memperjuangkan bangsa ini juga berprofesi sebagai pendidik atau pengajar. Bahkan Presiden pertama, Ir. Soekarno sempat mengajarkan untuk pemberantasan buta huruf di Yogyakarta.

Jika Sahabat pernah menonton Film “Sang Pencerah” tentu Sahabat tahu perjalanan Ahmad Dahlan dalam mengajar. Mulai dari Langgar di rumahnya sampai sekolah milik pemerintahan Belanda. Mulai dari Ilmu Tauhid dan agama sampai wawasan kebangsaan. Sehingga lahirlah kaum-kaum terpelajar yang nantinya kelak melanjutkan perjuangannya memerdekakan bangsa ini.

Saat ini profesi sebagai pengajar agaknya kurang begitu diminati daripada  profesi pengusaha, insinyur, dokter atau karyawan di perusahaan yang besar. Hal ini dapat dilihat dari tanggapan siswa menengah atas yang jarang menyebutkan keinginannya menjadi guru. Alih-alih kemudian diterima di kampus keguruan adalah pilihan kesekian mereka.

Jika kita lihat tren pengusaha atau karyawan yang sukses justru cenderung berprofesi layaknya seorang pengajar. Mereka mengadakan seminar, kuliah umum, mentoring bisnis dan sebagainya. Jadi, sebelum dikatakan suksespun seorang pengajar harusnya bangga karena ia sudah bisa melakukannya terlebih dahulu. Sebagai perbandingan misalnya begini:

Seorang pengusaha/karyawan ingin mengabdikan ilmu bisnisnya atau bidang yang digelutinya kepada masyarakat. Maka, ia kemudian membuka semacam workshop bisnis. Saya ragu workshop ini akan dihadiri banyak orang apabila pengusaha/karyawan ini belum dikenal kesuksesannya. Beda ceritanya dengan seorang pengajar. Meski tidak dikenal masyarakat, murid-murid yang akan belajar pada dia pasti akan berduyun-duyun hadir dikelasnya. Sehingga pengabdian dan penularan ilmu dapat mudah dilakukan seorang pengajar.

Begitulah sedikit yang bisa saya bagikan mengenai pilihan saya untuk menjadi seorang pengajar. Meski banyak teman-teman atau bahkan guru yang menyayangkan saya memilih kampus keguruan dulu, saya sangat yakin.

“Apabila semua orang pintar di sekolahnya menjadi dokter, insiyur atau pengusaha. Apakah kita rela masa yang akan datang anak-anak bangsa ini diajar orang buangan? ”

Jadi, mari berbangga diri untuk menjadi pengajar. Seperti Ki Hajar Dewantara, KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, Bung Karno dan orang-orang besar lainnya. Meski saat ini kita tidak dianggap besar, biarlah amal jariyah kita yang semakin besar. Seiring kucuran ilmu yang mengalirkan ke murid-murid kita.

Iklan

9 thoughts on “Bangga Jadi Pengajar

  1. AeR_SmarT

    Menjadi guru/pengajar, untuk apa? Kita berharap guru-guru/pengajar di Indonesia serempak menjawab, ‘Investasi untuk Indonesia’. Siapakah mereka yang paham arti ‘Investasi untuk Indonesia’? Semoga saya, Anda, & mereka yang saat ini menjadi guru di seantero penjuru nusantara.

    Balas
  2. jayireng

    ane paling suka sama guru, mungkin gak ada mereka, kt tidak jadi seperti sekarang, ada presiden karena kehadiran seorang guru..!
    I love you guru ku

    Balas
  3. vonarief

    wah,, saya jadi terharu,,
    ada motivasi baru untuk saya,,

    apalagi kata-kata yang ini
    ““Apabila semua orang pintar di sekolahnya menjadi dokter, insiyur atau pengusaha. Apakah kita rela masa yang akan datang anak-anak bangsa ini diajar orang buangan?

    makasih ya pak guru 🙂

    Balas
      1. ayip7miftah Penulis Tulisan

        benar. tapi saat ini, kalau di kelas saya meminta siswa jangan memanggil ‘bapak’.
        tujuannya membangun kedekatan dgn para siswa, agar menganggap saya sbg sahabat atau kakak mereka.

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s