Mengajar Sambil Googling, Why Not?

Artikel ini diikutkan dalam “Lomba Penulisan Artikel Guru Era Baru 2012”. 

Saat ini ketidaktahuan akan suatu hal tidak akan bertahan lama. Artinya, apabila saat ini kita tidak tahu akan satu hal, beberapa detik kemudian kita akan dapat berbicara tentang hal tersebut secara panjang lebar. Ini memang ajaib. Satu kondisi dapat berubah secara cepat dan signifikan. Karena kita telah masuk ke masa yang disebut mobile miracle di era web 2.0.

Dalam diskusi yang mengundang Yusuf Maulana (editor asal Yogyakarta), istilah web 2.0 bisa diartikan sebagai generasi kedua layanan berbasis web. Pada generasi ini internet lebih menekankan pada kolaborasi online dan berbagi antar pengguna, misalnya jejaring sosial, blogosphare, wiki dan lainnya. Dengan demikian, konten informasi di internet makin tidak terbendung. Semua pengakses internet dapat dengan mudah menunggah informasi yang akan dapat dinikmati pengguna lainnya.

Dalam perkembangannya, peran web 2.0 semakin pesat karena didukung kemudahan mendapat perangkat pengkases web. Tren ini kemudian mengarah pada kemudahan lain yaitu melalui akses dengan perangkat bergerak. Dari tempat manapun kita akan lebih mudah untuk menyebarkan dan mengakses informasi, tidak lagi membutuhkan seperangkat PC atau selalu terhubung dengan kabel telepon. Hal ini terasa di tahun-tahun terakhir dengan keberadaan laptop, tablet, ponsel pintar dan modem yang menjamur dan terjangkau. Belum lagi keberadaan tempat berfasilitas wifi atau hotspot. Segala perkembangan ini kemudian dikenal dengan istilah mobile miracle.

Penggunaan internet saat ini juga telah menyentuh dunia pendidikan. Fasilitas internet dan wifi sudah banyak dimiliki sekolah di berbagai pelosok Indonesia. Begitu juga para guru dan siswa sudah banyak yang memiliki perangkat untuk akses internet, baik laptop ataupun ponsel. Nah, peluang inilah yang perlu diraih untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran. Sewaktu mengajar, saya pernah mengalami kejadian yang berhubungan dengan hal ini. Saat itu saya berkata,

“Adik-adik, ada yang tahu penemuan tokoh fisika yang bernama Archimedes?”

Kelas tetap hening. Tidak lama kemudian ada yang siswa berkata “Bentar Mas kita googling dulu, boleh?”

Apabila Sahabat mengajar di tempat yang siswanya terkondisikan mengakses internet secara mobile, tak menutup kemungkinan kasus di atas pun akan terjadi. Atau tanpa mengatakan ke Sahabat sebagai pengajar, si siswa sudah mengakses google secara sembunyi-sembunyi. Nah, lantas apa yang harus kita lakukan?

Di satu sisi kita dapat mengapresiasi inisiatif siswa mencari ilmu pengetahuan secara mandiri. Karena saya yakin cara ini akan lebih menyenangkan bagi mereka karena sangat cepat dan mudah. Dengan kondisi yang menyenangkan diharapkan mampu menjadi kekuatan pendorong (driving forces) untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bukankah kondisi seperti ini yang kita inginkan?

Siswa kami yang sekarang sudah jadi alumni

Akan tetapi, sebagai fasilitator kita juga harus mengarahkan bahwa pembelajaran instan tidaklah selamanya baik. Hal ini dapat berakibat siswa terlalu mengandalkan google dan tidak mau membaca buku sebelumnya. Siswa mungkin akan berpandangan, “Buat apa baca buku, kalau ditanya apapun akan bisa menjawab dengan googling”.

Nah, di sinilah kita harus memberikan pemahaman kepadasiswa bahwa cara googling atau akses internet lainnya adalah sebagai media alternatif. Proses pembelajaran kognitif yang sebenarnya terjadi ketika siswa kita mengingat, memahami, menerapkan dan seterusnya seperti yang tercantum dalam Teori Kognitif Bloom.

Jadi, sewaktu-waktu saya anjurkan Sahabat melakukan alternative pembelajaran dengan akses internet. Misalnya saja, “Anak-anak! Sekarang kita akan belajar tentang atom, ayo silahkan kalian cari informasi tentang perkembangan teori atom beserta tokoh-tokohnya. Boleh cari di buku-buku perpustakan atau cari di internet.”Setelah semua siswa sudah mendapatkan bahan bacaan yang sesuai, beri kesempatan mereka memaparkan apa yang mereka dapatkan.

Usia anak-anak atau remaja adalah usia yang masih membutuhkan pendampingan dalam beraktivitas. Apalagi dalam aktifitas dalam dunia internet. Tidak dipungkiri sampah-sampah pemikiran yang merusak moral pun bertebaran di sana. Akan tetapi, bukanlah pilihan bijak apabila kita antipati dan memaksa anak-anak kita menjauhi internet. Karena diam-diam mereka pun akan bersingungan dengannya. Jadi, kenapa kita tidak memilih untuk terlibat dalam persingungan mereka kemudian mengarahkannya ke penggunaan internet secara sehat. Selamat mencoba!

Sumber gambar: territoriocreativo.es

Iklan

One thought on “Mengajar Sambil Googling, Why Not?

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s