Ketika Siswa Marah Kepada Gurunya (I)

Mungkin ada sahabat yang heran dengan tulisan ini. Apa tidak terbalik? Biasanya kan guru yang marah kepada muridnya? Tidak sahabat, judul tulisan ini benar begitu. Manusia itu tempatnya salah dan khilaf. Guru juga manusia. Guru juga bisa salah dan khilaf. Maka, wajar kiranya suatu waktu murid yang biasa ada di hadapannya menemukan retak itu, lantas menunjukan rasa kecewa dan “marah”.

Sahabat, latar belakang tulisan ini berasal dari pengalaman saya mengajar privat beberapa waktu yang lalu. Oh iya bagi yang belum tahu, selain mengajar kelas di satu bimbingan belajar, saya pun biasa mengajar siswa secara per orangan atau privat. Menurut saya cara ini cukup dibutuhkan bagi siswa yang menginginkan belajar dengan cara lebih personal dan intens. Nah, pada umumnya privat, saya mendatangi rumah siswa dan melakukan belajar bersama di sana. 

Meski terkesan mendadak, sore itu saya diminta seorang siswa SMA untuk belajar bersama di rumahnya. Pada awal pertemuan kondisi aman terkendali. Siswa menyodorkan pekerjaan rumah (PR) Fisika yang harus ia kumpulkan besok. Kemudian saya pun membantu untuk bisa memecahkan persoalan di tiap soal. Prinsip saya tidak mau hanya memberikan jawaban tanpa siswa paham sehingga untuk satu soal butuh waktu yang cukup lama. Nah, di bagian inilah semua kejadian bermula karena siswa ternyata butuh waktu yang lebih lama lagi untuk dapat memahami.

Waktu semakin mepet. Adzan maghrib sebentar lagi berkumandang di masjid sebelah rumah. Sebelumnya saya sudah mengatakan, habis maghrib saya harus membimbing siswa lain yang besoknya ada ulangan Fisika. Berubahlah suasana jadi makin tidak nyaman. Soal di tangan siswa masih tersisa banyak. Alhasil, suasana makin terasa ingin buru-buru saja.

Baju seragam sekolah siswa makin dibahasi oleh keringat. Oh iya, saat saya sampai ke rumahnya, siswa ini memang baru pulang dari sekolah dan belum sempat mengganti seragam. Tidak jauh beda dengan saya, kemeja yang saya kenakan dari kampus sejak pagi makin tak karuan aromanya bercampur keringat yang tak kalah deras.

“Mas ini gimana, soal-soal yang lainnya? Masih banyak banget nih!?!”, pertanyaannya memecahkan ketegangan kami.

“Mmm… Ya mau gimana lagi, sudah mepet. Kan setengah lainnya sudah kita kerjakan. Konsepnya sudah paham toh. Nanti bisa dicoba-coba sendiri.”

BRAKK!! Siswa membanting keras lembar-lembar soal di meja, lalu menutup wajah dengan tanggannya. Meski kaget, saya tahu apa yang sedang ia rasakan. Saya besarkan hatinya. Saya raih lembar-lembar itu dan saya beri coretan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk menjawabnya. Tapi, tangan masih menutupi wajah si siswa. Nafas saya makin memburu. Saya keraskan suara saya, meski sudah tahu sedari awal ia yang duduk beberapa centi meter dari saya itu sudah mendengar.

“HEY! Gimana?? Mau lanjut!!!?!?”, pertanyaan dengan irama berbalut kesal meluncur dari saya.  Sementara yang ditanya masih meletakan telapak tangan di wajahnya yang ditengadahkan ke atas. Masih juga seperti itu sampai beberapa menit kemudian,

“Ya sudahlah, Mas!”, siswa laki-laki yang pada hari-hari lain terlihat begitu humoris kali ini terlihat berkebalikannya.

Akhirnya pertemuan kami selesaikan. Saya pamit dan siswa masih memasang wajah tak bersahabat.

Dari pengalaman yang sangat tidak mengenakan itu saya mendapat pelajaran besar. Apa saja? Semoga saya bisa membagikannya di tulisan berikutnya. Jadi, mohon tunggu sejenak dan kunjungi kembali blog ini ya, Sob.

Telah dilanjutkan pada tulisan:  Ketika Siswa Marah Kepada Gurunya (II)

Sumber gambar: faktakita.com

Iklan

2 thoughts on “Ketika Siswa Marah Kepada Gurunya (I)

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s