Pendidikan Finansial untuk Generasi yang Mandiri

Saat menonton film trilogi Spidermen ada pertanyaan  di kepala saya. Setelah lulus sekolah kenapa Peter Parker mengontrak apartemen sendiri? Bukankah lebih enak tinggal dengan Bibinya seperti dulu? Ternyata pertanyaan itu dijawab oleh teman saya. Dia sedang belajar untuk mandiri, di luar negeri sana katanya memang memiliki budaya seperti itu. Nah Sahabat, Kenapa hal itu tidak terjadi juga pada generasi di negeri ini?

Pertama kali saya mengetahui mengenai konsep pendidikan Finansial adalah ketika Bapak Annis Matta (Wakil ketua DPR RI) memberikan sebuah ceramah di kampus kami, Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam ceramahnya beliau menjelaskan mengenai pentingnya menambahkan pendidikan finansial dalam kurikulum pendidikan kita. Pada saat itu saya sedikit sangsi. Apa tepat anak-anak sudah dikenalkan dengan uang? Belum lagi membebankan muatan baru dalam pembelajaran. Bukankah itu memberatkan siswa? Namun, pada akhir ceramahnya justru saya menemukan jawaban dan mendukung keberadaan pendidikan finansial sebagai usaha memandirikan para generasi muda.

Pendidikan finansial dapat diartikan sebagai sebuah pembelajaran kepada siswa terkait ketrampilan mengelola aset. Jadi tidak hanya tentang uang dan harta tapi juga mengenai potensi dan kemampuan yang bisa mereka kembangkan agar dapat hidup secara mandiri. Bisa jadi tidak dijadikan mata pelajaran tersendiri, pendidikan finansial bisa disisipkan ke dalam pelajaran Matematika dan Ekonomi. Dalam pelaksanaannya justru banyak dilakukan secara praktek dalam kehidupan sehari, misalnya manajemen keuangan dan aset, mengubah keterampilan menjadi penghasilan, kemampuan menabung, berwirausaha, investasi, membuat peluang, berperan sebagai pegawai dan lain-lain. 

Dalam tulisan ini akan saya kaitkan ide tentang pendidikan finansial dengan jenjang pendidikan siswa. Sebagai pengajar yang suka berinteraksi dengan siswa, saya sering menemukan pengalaman-pengalaman untuk mewujudkan kemandirian mereka. Sebaiknya pola pendidikan ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan mereka. Muatan yang akan kita berikan ke siswa SD pasti akan berbeda dengan siswa SMP, begitu seterusnya.

Usia Sekolah Dasar

Seperti kita ketahui, pada usia Sekolah Dasar (SD) siswa mendapatkan materi berhitung dasar. Kesempatan ini sebaiknya tidak kita sisa-siakan. Ketika mereka belajar menjumlah, mengurangi, mengali atau membagi kita dapat melakukannya secara nyata. Kita dapat melakukan semua operasi matematika itu untuk aset yang mereka miliki, misalnya: menghitung jumlah kursi atau meja. Lantas kita sisipkan pesan untuk menjaga dan merawat aset tersebut agar tidak rusak atau berkurang. Selain itu penting juga untuk memberikan kepemahaman tentang tindakan berhemat dan menabung.

Usia Sekolah Menengah Pertama

Menginjak usia sekolah menengah, kita sudah dapat mempercayakan siswa untuk banyak terlibat dalam hal praktis. Muatan kewirausahaan sudah mulai diberikan. Pengelolaan mengenai aset pun bisa ditambahkan menjadi berkemampuan memperoleh penghasilan. Dalam pengamatan kepada siswa-siswa SMP yang saya temui tindakan seperti ini sudah berani mereka lakukan. Banyak diantara mereka secara individu berjualan beragam makanan atau minuman kepada teman-temannya.  Asalkan tidak menganggu konsentrasi belajar mereka, hal ini patut kita apresiasi.

Usia Sekolah Menengah Atas

Untuk tingkat SMA, pendidikan finansial dapat dikembangkan dalam suatu komunitas. Siswa diharapkan membentuk kelompok kecil lantas meminta mereka untuk berpikir kreatif untuk berwirasusaha. Dalam proses ini selain menumbuhkan jiwa wirausaha mereka juga dilatih untuk memimpin dan dipimpin dalam kelompok. Bagaimana menjadi atasan yang mengordinir badan usaha dan menjadi pegawainya. Pada tahap ini pihak sekolah dapat mendukung usaha mereka dengan memberikan bantuan modal atau lokasi berwirausaha.

Melalui pendidikan finansial ini diharapkan siswa mampu menggali seluruh potensi yang mereka miliki. Apapun bakat dan kemampuan yang mereka miliki harus mereka latih dan olah. Sehingga kedepannya mereka dapat menyalurkan potensi yang pada awalnya sekedar hobi menjadi sesuatu yang menghasilkan. Dalam pola pendidikan ini juga tidak berbicara tentang bagaimana cara menghasilkan namun juga mampu mengelolanya. Sehingga kelak ketika mereka berada pada jenjang perguruan tinggi mereka sudah siap untuk mandiri. Lepas dari subsidi orang tua dan menjadi Si Spidermen.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

8 thoughts on “Pendidikan Finansial untuk Generasi yang Mandiri

  1. Nur Muhammad Malikul Adil

    Sekedar ingin berbagi pengalaman awak yang sangat minim pengalaman….. Alhamdulillah awak pernah belajar di USA selaam 2 bulan, dan selama periode itu ada 1 pelajaran tentang finansial yang bisa diambil dari mahasiswa2 di USA…
    1. Mereka tinggal terpisah dari orang tua setelah mencapai usia 18 tahun (Walaupun tinggal di kota yang sama)
    2. Mereka terbiasa bekerja part time untuk memenuhi kebutuhan sekundernya (Kebutuhan primer kalau bisa, kalau masih belum bisa masih dibantu dengan orang tua)

    Efek baiknya :
    Mereka terbiasa mandiri secara finansial

    Efek buruknya :
    – Mereka lebih cenderung gak menghormati dan cuek kepada orang tua dan sudah mulai Individualis di usia yang Labil (18 tahun). Akibatnya Panti Jompo penuh dan mereka gak mau ngurusin orang tua karena mereka merasa tidak diurus oleh orang tua
    – Mereka individualis dengan keluarga sendiri (Bahkan kakak/adik mereka sendiri).

    Balas
    1. afni

      ,positif cie,,org indo mang jarang ada yg mandiri,,yg dah married j msh bnyk yg bergantung ma ortu,,byar efek buruk’y ga terjd pendidikan moral’y jg diperdalam,,byar ga terjd ortu dimasukin kepanti jompo..ga berbudi itu

      Balas
    2. ayip7miftah Penulis Tulisan

      Wow! Terimakasih dibagi-bagi pengalaman yang (tidak) sedikit itu, Bang Bro!
      Pola kemandiriannya boleh kita tiru, tapi etika berkeluarganya memang harus kita junjung tinggi.
      Nah, benar tuh, dengan pendidikan moral misalnya. Atau justru peran pendidikan di dalam keluarganya juga ditingkatkan.🙂

      Balas
  2. supardi

    Bagus sekali idenya….untuk kemandirian anak bangsa ini.
    cuma sayang…. anak-anak bangsa ini dibangku sekolah banyak sekali beban belajarnya.

    Balas

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s