Jangan Panik, Titik!

panik1Pekan ujian kali ini memang menjadi pekan yang panjang bagi kami para pengajar. Bukan. Bukan karena kami harus menyiapkan soal ujian. Meski diantara kami ada juga sih yang mendapat tugas seperti itu. Tapi untuk pengajar sebuah bimbingan belajar (bimbel), pekan ujian menjadi penuh dengan jadwal konsultasi.

Di bimbel tempat saya mengajar memang menerapkan kebijakan agar totalitas mendampingi siswa. Jadi, sebelum mereka menghadapi ujian untuk esok hari, setiap siswa “wajib” mendapat fasilitas konsultasi pada sore harinya. Biasa kami menyebutnya “ODB atau One Day Before ”. Saat ODB, seorang pengajar diminta membantu siswa memahami materi yang mereka rasa kurang. Namun dalam perjalanannya seorang pengajar juga harus mampu menenangkan dan memupuk rasa percaya diri siswa untuk mengikuti ujian esok harinya. Banyak juga di antara siswa seolah frustasi menghadapi rangkaian ujian, apalagi saat menghadapi mata pelajaran… Ehm, Fisika. Hehe. 

Nah Sob, ketika membimbing siswa dalam konsultasi seperti ini sering sekali siswa menyodorkan satu dua soal yang bagi mereka sukar. Karena konsultasi lebih bersifat persiapan, maka saya anggap wajar jika siswa lebih banyak mengontrol materi kelas. Toh, yang lebih tahu kurang di materi apa tentu diri siswa masing-masing. Kembali ke penyodoran soal. Dalam beberapa kasus, soal yang disodorkan ternyata masih soal-soal standar. Sebagai pengajar sedih juga dan berkata dalam hati, “Ya Allah, kamu masih belum bisa meski soal  seperti ini, Dek.” Tapi sekali lagi kalimat itu hanya terlontar dalam hati.

Dalam kasus yang lainnya, tidak kalah seringnya siswa menyodorkan soal yang tingkat kerumitan tinggi hingga membuat pengajar mengeryitkan dahi. Nah lho! Meski merasa tertantang tapi tentu saja saat ini bukan hanya urusan kita dengan si soal sukar. Namun, ada juga sosok siswa yang menjadi sosok utama yang harus memahami penyelesaian dari soal ini. Saya contoh satu kasus seperti ini:

“Mas bisa minta tolong jelaskan pemecahan soal yang ini?” Pinta seorang siswa sembari menyodorkan soal.

Lalu si pengajar mulai membaca dan mengidentifikasi soal hingga berkata “Waduh! Ini soal susah sekali dek! Sebentar saya cari jawabannya dulu”

Kemudian terlihat oleh siswa si pengajar mengutak-atik soal sampai “keasyikan” atau yang lebih tepatnya kebingungan.  Menit demi menit berlalu. Si siswa hanya mendapat jawaban muka si pengajar yang ditekak-tekuk dan meracau tak jelas, namun ia masih sabar menunggu jawaban dari soal yang ia tanyakan. Syukur masih menunggu. Karena ada juga siswa yang merasa tidak puas dan berujar, “Ya udah deh, Mas.” Tapi yang berkata lebih nyesek juga pernah mereka ceploskan, “Lho masak Mas nggak bisa, sih.” Aduh!

siswa1

Nah sob, kasus seperti di atas bukan terjadi pada pengajar lain yang menceritakan pengalamanya kepada saya. Bukan. Tapi pelakunya adalah saya sendiri. Iya, Sob. Ketika awal-awal mengajar, kasus seperti itu kerap terjadi. Padahal sebelum mengajar materi sudah coba saya pelajari kembali. Banyak soal yang saya juga latih untuk dipecahkan. Tapi ternyata, soal jenis baru dengan level kesulitan tinggi yang disodorkan.

Dari kasus di atas, saya pribadi jadi memiliki pengalaman untuk mengatur rasa panik di depan siswa. Ketika disodori soal, sebenarnya reputasi kita sebagai seorang pengajar dipertaruhkan. Mungkin dianggap berlebihan, namun bagi saya itulah adanya. Terutama bagi pengajar ilmu eksak, dimana satu soal tidak banyak versi jawabannya bahkan hanya satu. Apalagi ketika disodorkan soal sulit, kepanikan pengajar itu dimunculkan. Si siswa bisa jadi menerka sejauh mana keilmuan yang dikuasai pengajar, belum lagi ditambah komentar-komentar dari si pengajar. “Aduh susah-lah!” “Ini pakai konsep apa?” atau sebagainya. Makin jelaslah semua.

Itulah pengalaman saya, Sob. Mungkin saya memang perlu banyak belajar dari pengajar senior yang sering saya jumpai. Beliau-beliau ini terlihat lebih tenang dan kalem meski belum tentu juga ia tahu penyelesaian dari soal yang disodorkan. Namun sikap dan tenangnya justru membuat siswa nyaman dan menunggu bantuan jawaban dari pengajar dengan penuh keyakinan. Dan saat ini saya masih belajar mengajar seperti para guru-guru saya itu.

Ketenangan mengatasai kepanikan dalam konsultasi saya coba formulasi dengan lebih teknis. Begini, Sob. Ketika soal dari siswa itu disodorkan jangan sampai terlontar kalau soal itu sulit luar biasa yang akhirnya malah menakut-nakuti siswa. Sahabat bisa saja berujar, “Wah ini soal bagus sekali, sudah lebih tinggi dari soal-soal lainnya. Hebat kamu dapat soal seperti ini.” Kalau dirasa siswa cukup koperatif dan mampu diajak berembuk, lakukan saja. Tidak perlu malu untuk memecahkannya bersama siswa. Namun jika sahabat merasa harus memecahkannya sendiri, sahabat bisa menyiasati dengan meminta jeda waktu lebih panjang untuk memikirkan jawaban. “Nah, soal ini di-skip dulu. Coba kamu kerjakan soal yang lain.” Saat siswa mengerjakan soal yang kita berikan, segera selesaikan soal yang sukar itu.

Begitulah pengalaman yang bisa saya berikan tentang memanajeman kepanikan saat konsultasi dan bimbingan. Kita memang bukan makhluk serba tahu. Kita memang masih butuh belajar. Namun, persoalan bisa datang kapan saja. Jangan panik. Jadikan itu sebagai pemecut kita untuk belajar dan memperkaya materi. Jika ada sahabat yang memiliki pengalaman serupa dan tips lain, boleh sekali untuk di-sharing-kan. Semoga menjadi manfaat untuk kita semua. Selamat belajar! Jangan panik, titik!

Sumber gambar: http://img.sparknotes.com dan http://newteachers.tes.co.uk

Iklan

5 thoughts on “Jangan Panik, Titik!

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s