Mas Guru: “Kurikulum Tidak Bisa Mengajar”

kartunku15

Akhir-akhir ini tema diskusi kami yang sedang trending baik di kampus, sekolah, bimbingan belajar bahkan kos-kosan adalah perubahan kurikulum. Agaknya kebijakan pemerintah yang satu ini akan selalu menuai perdebatan panjang. Pihak yang setujui akan perubahan kurikulum menilai sudah saatnya kita mengubah arah kebijakan menyongsong jaman modern. Kurikulum 2013 dianggap akan mampu memenuhi kebutuhan bangsa di masa depan. Di lain sisi, pihak yang kontra perubahan kurikulum menilai sikap ini terkesan asal-asalan. Negara seperti tidak punya arahan yang jelas dalam bidang pendidikan. Selama hampir 10 tahun, selama tiga kali pula kurikulum diganti.

Menurut saya, “Kurikulum ganti atau tidak, selama cara mengajar seorang guru begitu-begitu saja. Hasilnya tidak akan jauh berbeda”. Guru adalah ujung tombak dari semua sistem dalam pendidikan. Secanggih apapapun kurikulum, jika guru tidak mampu mengajar, sama saja akan nihil. Kalimat ini berlaku juga sebaliknya. Kita tidak tahu kurikulum apa yang digunakan Ibu Muslimah, tapi kita bisa saksikan seperti apa Laskar Pelangi hasil didikannya.

Saya lebih meninjau perlu adanya kebijakan untuk memfokuskan perbaikan pendidikan dari sisi guru sebagai pendidik. Saya teringat sebuah kalimat, “Waktu seorang guru itu 40% untuk mengajar dan 60% untuk belajar”.  Sehingga seorang guru waktunya lebih banyak digunakan untuk mengembangkan diri. Baru setelah itu mengembangkan pribadi setiap peserta didiknya. Sedih juga jika pernah ada selama puluhan tahun seorang guru tidak pernah mengikuti satukalipun pelatihan.

Guru memang harus memiliki inisiatif belajar secara mandiri, tapi lembaga/dinas/instansi berkewajiban untuk melatihnya. Karena sebagus apapun kurikulum, ia tetap tidak akan bisa mengajar sendiri. Gurulah yang mengajarkan apa yang dibawa kurikulum kepada siswa-siswa di kelas.

Iklan

5 thoughts on “Mas Guru: “Kurikulum Tidak Bisa Mengajar”

  1. Harafi Fauziyah

    kurikulumnya dibikin sedemikian rupa hingga dapat memfasilitasi pengembangan potensi & kualitas guru..
    tidak terlalu banyak administrasi yg bikin ribet dan menyita banyak waktu..
    tentu saja dengan menghapuskan UN ato dgn tidak mendewakan UN sebagai momok besar pendidikan di Indonesia..

    hedew,
    mikir negara emang nggak mudah,
    banyak masalah,
    sebanyak undangan2 nikah.. hohoho..

    zemangat, anak muda.. ^hehe^

    Balas
  2. yolanda

    saya rasa yang harus diperbaiki dalam kurikulum ini bukan mata pelajarannya, tetapi anak2 murid atau anak2 penerus bangsa yang harus dirubah cara pemikirannya….semakin canggih teknologi dan fasilitas, maka semakin malas anak2 penerus bangsa untuk mengembangkan cara pemikiran mereka.. sehebat apapun guru, kalau anak murid tersebut tidak akan bisa membuat anak2 murid tersebut menjadi lebih baik…..

    Balas
    1. ayip7miftah Penulis Tulisan

      Iya nih. Tapi opsi yang lebih baik jika semakin canggih teknologi dan fasilitas, maka semakin hebat anak2 penerus bangsa.
      Ayo dukung guru untuk menjadikan anak Indonesia hebat! 😉

      Balas
  3. Lusnando Prajitu

    Tugas utama guru selain mendidik adalah mengajar dan memiliki kemampuan pedagogik. Terlalu banyak administrasi bikin puyeng…

    Balas

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s