Agenda Mempercepat Kesuksesan Pelajar

1358997230778Sukses bukan hanya milik mereka yang tua. Sukses adalah milik semua. Sukses juga jadi milik mereka yang muda. Saya dan Sahabat muda berhak menyandangnya. Itulah kurang lebih tujuan diadakannya sebuah acara yang digelar di GOR Amongrogo Yogyakrata pada hari Kamis (24/01) lalu. WiraMuda Bank Mandiri mengandeng Primagama dan Dinas Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta memberi nama agenda ini “Accelerate Your Success”.

Awal saya bisa mengikuti acara ini adalah dari SMS rekan pengajar di Primagama. Dia memiliki kelebihan tiket masuk agenda ini dan akhirnya mengajak saya. Hari itu memang libur, maka saya iyakan ajakan itu.  Terimakasih sekali pada rekan saya tersebut. Saya bagikan di blog apa yang saya tangkap selama acara. Semoga dengan terdokumentasi seperti ini, setiap inspirasi saya tangkap bisa Sahabat juga nikmati. 

Agenda“Accelerate Your Success” dibersamai seorang ustadz yang suaranya selalu terdengar hamper setiap bada shubuh di layar kaca. Yaps! Beliau adalah Ustadz Yusuf Mansur. Tidak hanya beliau sendiri, Saptuari Sugiharto sebagai tokoh dari pengusaha muda  juga membersamai peserta yang sedari pagi memadati gedung olahraga tempat berlangsungnya acara.

Jumlah peserta dari agenda ini mencapai angka ribuan, terlihat dari penuhnya bagian lapangan basket, tribun VIP dan barat GOR. Tidak hanya dari mahasiswa, kali ini acara wirausaha muda dihadiri pula peserta dari kalangan siswa, baik SMA maupun SMP. Saya setuju dengan konsep acara seperti ini yang mengundang para remaja. Karena memang benar-benar penting memperkenalkan dunia enterpreneur ke mereka. Sukses harus dimulai dari usia belia.

Sesi pertama diisi oleh Mas Saptu. Selaku owner dari Kedai Digital, beliau berbicara banyak mengenai perjalanan usahanya dari nol sampai pada posisinya saat ini. Karena memang gayanya yang Jogja banget,  luwes dan ndagel (kocak), sesi kali ini peserta dibuat riuh melihat aksi beliau di atas panggung. Tapi mendadak suasana menjadi berbeda ketika beliau mulai mengutarakan bahwa seorang pengusaha tidak boleh menikmati kesuksesannya sendiri. Beliau menceritakan gerakan yang diusungnya bersama tim yang diberi nama Sedekah Rombongan. Luarrr biasa! Bagi saya beliau memang jadi sosok yang mengisi jejeran pengusaha sukses yang tidak hanya dalam urusan dunia namun juga untuk urusan yang tembus ke langit. Insyaallah. Aamiin. Bagi Sahabat yang belum tahu gerakan ini bisa mengunjungi blognya di sedekahrombongan.com. Siap keluarkan tisu dan isi dompet.

Satu kalimat yang sempat saya tulis dari uraian beliau kala itu adalah:

“Jika kadar emas dihitung dengan karat, maka kadar manusia akan dihitung dengan MANFAAT.”

Jadi, hari ini Sahabat dapat berapa kadar manfaat? Semoga dalam 24 manfaat. Hehehe.

Ustadz Yusuf Mansur menaiki pangung di sesi kedua. Beliau memaparkan tabungan-tabungan yang harus dimiliki seseorang jika ingin sukses. Namun pada kesempatan kali ini beliau hanya mengutarakan dua tabungan, yaitu: tabungan sedekah dan tabungan ilmu. Semoga di lain saya bisa berkesempatan mendengarkan ceramah beliau tentang tabungan-tabungan lainnya agar bisa dibagikan kembali di blog ini.

Senada dengan uraian Mas Saptu tentang Sedekah Rombongannya, ustadz juga memaparkan tentang pengalaman beliau dan pengalaman orang yang ditemuinya tentang sedekah. Luarrr biasa, Sob! Hitung-hitungan matematika dan fisika rontok jika sudah berhadapan dengan matematika Allah. Contohnya 10 – 1 bukannya jadi 9, tapi bisa jadi 19. Apa pasal? Karena yang satu tadi disedekahkan dan diganti Allah jadi 10. Akhirnya hitungannya jadi 10 – 1 + 10 = 19. Percaya? Sahabat harus percaya. Dalam ceramahnya kala itu ada banyak testimoni dari orang yang ustadz temui. Jangan lupa sesi sebelumnya malah orangnya langsung yang berbicara.

Memang, Sob. Kalau boleh jujur, setiap mendengar ceramah Ustadz Yusuf Mansur saya seperti diingatkan tentang keajaiban janji Allah, diingatkan juga tentang optimisme terhadap janji Allah. Setiap hari kita ada dalam persaingan sengit, setiap hari kita disuguhkan realita pesimistis dan setiap hari kita dijejali hal yang seolah ilmiah dan membutakan mata hati ikita. Kala itu saya diingatkan, semoga juga dengan Sahabat saat ini. Allah yang memiliki segalanya, mintalah pada-Nya, kembali pada-Nya.

Dalam uraian kedua mengenai tabungan ilmu agaknya jadi sesi yang paling mengena bagi peserta di kanan kiri saya. Seperti disebutkan dalam paragraf awal, acara ini diperuntukan untuk mahasiswa dan siswa meski ada juga orang seperti saya yang bukan keduanya, hehehe. Jadilah uraian tentang kebermanfaatan ilmu  sangat cocok dengan pelajar yang wajahnya mendominasi seisi gedung olahraga.

Ustadz Yusuf menceritakan pengalamanya mengikuti ujian masuk kampusnya dulu. Wuih, menarik! Baru tahu juga saya. Ternyata kesuksesannya menjadi orang pertama yang keluar ruang ujian dan orang pertama yang namanya bertenger di daftar peserta yang lolos waktu itu adalah kemampuan membacanya. Jika ingin sukses, jangan mengandalkan hari-hari terakhir sebelum ujian untuk belajar. Jangan! Manfaatkan betul waktu-waktu sebelumnya untuk menyicil belajar, membaca. Meski tidak pintar, meski tidak pandai. Ustadz menyampaikan rahasia suksesnya adalah rajin dan sabar. Lelah dan letih memang wajar, namanya juga sedang bejar. Ingat rajin dan sabar. Begitu kurang lebih yang saya tangkap dari beliau.

Kalimat Ustudz Yusuf Mansur yang masih terkenang di benak saya adalah:

“Orang pintar kalah dengan orang rajin. Orang pintar kalah dengan orang sabar.”

Wah, kacau juga nih malah ada iklan yang lebih menjagokan bejo (keberuntungan). Hahaha.

Di menit-menit terakhir uraiannya, Ustadz yang kala itu berpeci hitam dan mengenakan kemaja putih bertuliskan Primagama (ehem!)  menuturkan kisahnya dalam mengohormati guru. “Sampai kapanpun ente adalah murid guru ente!” kalimat beliau dalam aksen betawi yang membuat punggung saya tegak lurus dengan tempat saya duduk. Ingin rasanya berteriak, SETUJUUUU TADZZ!!! Hehehe.

Ustadz berkisah suatu waktu pernah mengisi ceramah dimana beliau satu pangung dengan orang nomor satu di negeri ini. Dan saat orang nomor satu di negeri ini beserta rombong ajudannya datang, bukan beliau orang nomor satu yang menjadi perhatian ustadz. Bukan. Tapi satu sosok yang berjalan merunduk tas di belakang orang nomor satu di negeri ini sembari membawa. Sosok ini adalah kiyai dan guru dari Ustadz Yusuf Mansur. Nyesek juga katanya. Kok ulama kalah derajat sama pimpinan. Harusnya setara dong!

Ketika tiba Ustadz Yusuf Mansur diminta untuk mengisi ceramahnya beliau tidak langsung berjalan ke mimbarnya. Beliau berjalan menuju ke arah orang nomor satu di negeri ini. Siapapun akan mengira si ustadz akan menyalami orang nomor satu di negeri ini terlebih dahulu dan memohon izin untuk menyampaikan ceramahnya. Tidak. Tidak begitu ceritanya, Sob. Si ustadz malah menyalami, eh… tidak sekedar menyalami tapi mencium tangan sosok yang duduk di belakang orang nomor satu di negeri ini. Sebuah ciuman tangan seorang murid kepada gurunya yang khidmat, lantas setelaj itu memohon diri untuk menyampaikan ceramah kepada kiyainya. Waaaahhhh!!! Saat saya mendengar kisah itu, ingin rasanya berdiri, berteriak dan bertepuk tangan sekencang-kencangnya. Dalam kisah itu Ustadz Yusuf Mansur menang besar. Menang besar! Hahaha.

Pesan sederhana yang sudah sering bergema di telinga kita, jika ingin kesuksesan menyertaimu, hormati gurumu! Sederhana kan? Yuk kita mulai.

Sudah kesekian kalinya saya mendengar ceramah Ustadz Yusuf Mansur dan selalu ada sesi yang satu ini. Sesi dimana ustadz meminta peserta menangkat tangan tinggi-tinggi, memasukkannya ke kantong, ambil isinya angkat lagi tangan beserta apa yang ia raih di dalam kantong. Tak terkecuali hari itu. Setiap peserta mengangkat uangnya tinggi-tinggi. Ilmu hanya akan sekedar jadi materi yang mengisi otak jika tanpa dipraktekan. Inilah praktek langsungnya. Praktek sedekah. Wah… wah… ada peserta yang menyesal tidak ya mengambil uang dari kantongnya? Nahloh! Hehe.

1358999278062

Masih tentang uang dari kantong tadi. Ustadz hanya menyampaikan kepada peserta untuk menaruh uang itu di tempat peserta duduk sampai akhir acara. Cukup begitu. Pikiran saya pasti banyak peserta yang akan diam-diam memasukan kembali uangnya sebagian atau bahkan seluruhnya. Sahabat, ini acara bertujuan membuat peserta diakselerasi untuk sukses. Para pelajar, mahasiswa dan orang yang dating pada saat itu berusaha agar dipercepat mencapai kesuksesan. Sampai pada saatnya acara usai dan sebagian dari peserta meninggalkan gedung olahraga, saya melihat pemandangan yang jarang terjadi. Uang berserakan di tempat yang sebelumnya di duduki peserta. Uang mereka ternyata di tinggalkan begitu saja. Koin dan lembaran yang bahkan saya lihat ada yang senilai 50.000 mereka sedekahkan, mereka yang kebanyakan dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Pelajaran besar saya juga dapatkan dari peristiwa ini. Setiap peserta padahal bisa saja mereka kurangi nominal uang yang tidak sengaja terambil dari kantong, bisa juga mereka masukkan kembali seluruh uang itu ke kantongnya atau bisa juga mereka diam-diam memunggut uang peserta lain yang telah ditinggalkan begitu saja. Tapi tidak, Sob! Mereka yang sebagian besar adalah para remaja saya simpulkan sudah meyakini apa makna dari sebuah kesuksesan. Sukses itu tidak sama dengan uang. Lets accelerate our success!

PS: Mohon maaf untuk foto dokumentasi postingan ini benar-benar tidak representatif. Saat ini saya hanya bersenjatakan kamera ponsel low-end. Mohon doanya dari Sahabat supaya keinginan jadi blogger bersenjata SLR kesampaian. Aamiin 🙂 
Iklan

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s