Gegara Daftar Sekolah Pakai Batik

gubernur-jabar-ahmad-heryawan-_120612144533-623Bismillah…. Sedang mencoba merutinkan diri kembali mengisi blog ini nih, Sob. Setelah  banyak momen yang tidak sempat terdokumentasi, akhirnya ya hanya benar-benar lewat begitu saja. Sulit untuk dijadikan refleksi diri. Pada saat membangkitkan semangat menulis seperti ini, agaknya lebih enak jika dimulai dari hal-hal yang ringan dan tetap sederhana. Bismillah….

Jujur, urusan birokrasi memang semacam “musuh” bagi saya. Mulai dari jaman sekolah, kampus sampai kembali ke sekolah lagi, rasanya jengah sekali jika harus berurusan dengan prosedur ini itu. Serasa yang mudah kadang dibuat jadi susah. Mungkin ada sebagian Sahabat juga yang punya rasa yang maksud. Nah, tapi apa jadinya jika orang seperti saya tiba-tiba saja mendapat jalan khusus dalam urusan seperti ini. Boleh potong jalur, diutamakan dan tentu saja tidak berbelit-belit. Mengingat apalah yang saya miliki dari ukuran gelar, status, jabatan atau apalagi wajah. Hehehe…

Keistimewaan ini terjadi pekan lalu. Saat sekolah mengelar proses penerimaan peserta didik baru. Nah, saya dan seorang teman didaulat untuk mengurusi salah satu anak orang kantor kami. Itu artinya kami dihadapkan prosedur yang terkesan ruwet. Parahnya,  pada saat itu juga kami diminta menjadi panitia acara resepsi pernikahan.  Arrggghhh!! Buru-buru adalah kata yang tidak mungkin tidak melekat pada otak kami.

Pagi-pagi sebelum jam menunjukan angka delapan, kami sudah masuk ke sekolah yang dimaksud. Tentu saja saat itu pula kami telah berpakaian rapi layaknya panitia resepsi agar mengefektifkan waktu. Mobil yang kami naiki leluasa parkir di halaman sekolah yang masih sepi. Saya tekankan, kami berdua ke sekolah dengan mobil. Bukan, bukan berarti saat ini sehari-hari saya sudah memakai mobil. Inilah salah satu letak istimewanya. Baru beberapa langkah setelah keluar dari mobil yang dipinjami si empunya hajat resepsi. Kami disambut senyum ramah satpam sekolah tersebut.

Masuk ke gedung sekolah, kami pun bertemu pejabat sekolah. Bersalamanlah kami dan mengobrol sebentar. Ditunjuknya satu ruangan oleh beliau dimana kami akan mengurusi prosedur pendaftaran siswa baru. Kami memasuki ruangan yang dimaksud. Suasana masih sepi. Hanya terlihat beberapa panitia yang masih santai menyiapkan berkas dan orang tua serta calon siswa di kursi tunggu.

Karena sistem pendaftaran yang menggunakan komputerisasi belum online, dimintalah kami menuliskan dulu nomor pendaftaran dan nama calon siswa yang kami daftarkan. “Silahkan Pak, ditulis saja nomor dan nama anaknya. Biar nanti saya dulukan”, bisik seorang panitia sembari menyodorkan selembar kertas.

Rupa-rupanya tanpa kami sadari ada seorang bapak yang memperhatikan aktivitas kami dari gerbang hingga di ruang pendaftaran. Bapak itu kini duduk tepat di samping saya dan masih bergantian mengarahkan pandangan lekat-lekat ke kami berdua. Lantas tiba-tiba dia berbisik kepada saya, “Punten Pak… Mendaftarkan siapa ya, Pak?”

Mendapati pertanyaan dengan ekspresi penanya seperti itu mengherankan juga. Lantas melihat penampilan diri sendiri saat itu, sadarlah saya tentang apa yang dimaksud dari si bapak yang bertanya tadi. Kami berdua mengenakan setelan “terlalu” rapi untuk orang yang mengantri. Benar saja, ketika kembali lagi ke sekolah saat siang hari, kejadian-kejadian sewaktu pagi terulang lagi. Senyuman satpam, pandangan ramah para guru, dan ketika masuk ke ruang pendaftaran juga seolah mendapat perlakuan khusus.

ppdb

Di tengah ruang pendaftaran yang telah sesak dengan siswa dan orangtua di depan meja pendaftaran, kami berdua asyik saja melengang lewat belakang meja. Karena tidak enak saja, kami  kembali ke depan meja dan berdiri bersama pengantri yang lain. Lama kami berdiri, tiba-tiba ada seorang panitia yang menanyai kami. Karena agak kesal kami menjawab dengan bernada sedikit tinggi, “Kami yang tadi pagi kesini, katanya mau diurus dulu.”  “Oh… iya, Pak?! Maaf belum diurus, kami cari berkasnya dulu. Mohon maaf ya, Pak?!” Berkas milik kami cukup lama dicari, ternyata map yang dimaksud terselip dipuluhan tumpukan map lainnya. Herannya ada satu panitia yang khusus melayani kami.   Diperlakukan seperti itu kami jadi merasa tidak enak juga. Belum lagi, pandangan heran berpasang-pasang mata yang menatap kami ikut heran. “Siapa sih dua orang ini?” mungkin itu ada yang dipikiran mereka.

Sekali lagi, apalah gelar dan status kami berdua. Memang siswa yang kami daftarkan atasan kami di kantor. Tapi apakah sampai diperlakukan seperti itu. Baru sesampainya di dalam mobil, kami berdua terbahak-bahak. Hanya karena berpenampilan batik rapi layaknya ajudan pejabat, kami mendapat perlakuan yang tak wajar. Ternyata di sekitar kita memang masih suka menilai orang dari apa yang dikenakan. Sampai-sampai saya dan teman yang menjadi “korban” saat itu punya ide iseng, kapan-kapan pakai batik panitia resepsi ini lagi untuk menjalankan aksi di tempat lain. 😉

Sumber gambar: republika.co.id dan informasicirebon.blogspot.com

Iklan

2 thoughts on “Gegara Daftar Sekolah Pakai Batik

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s