Lihat Lebih Dekat

Thumbnail_320.jpg (320×370)

Diceritakan ada seorang anak kecil yang duduk di bangku TK. Suatu hari Ibu guru meminta seluruh siswanya untuk menggambar bebas. Seluruh siswa-siswa tersebut dengan bersemangat mulai memainkan pensil-pensil warnanya di atas kertas A3 yang disediakan oleh guru. Ada yang menggambar rumah, menggambar keluarga dengan seorang ayah dan ibu serta kedua anak yang saling bergandengan tangan, ada yang menggambar gunung dengan hiasan matahari di atasnya dan masih banyak gambar-gambar lainnya yang diapresiasikan oleh anak-anak TK itu. Betapa antusiasnya mereka.

Namun, hanya ada seorang anak yang menggambar sesuatu yang sangat berbeda dari teman-temannya yang lain. Dari sejak pertama mereka memulai menggambar, Ibu guru melihat anak tersebut hanya menggambar warna hitam di seluruh kertas gambar. Hanya warna hitam. 

Karena jam sekolah telah usai, maka anak-anak yang belum selesai menggambar diizinkan melanjutkan tugasnya di rumah, dan Ibu guru tersebut tidak sempat menanyakan apa sebenarnya yang sedang digambar oleh siswanya itu. Di rumah pun sang anak melanjutkan aksi menggambarnya, betapa terkejutnya kedua orang tuanya ketika hanya menemukan gambar warna hitam di kertas-kertas yang sebanyak itu, kedua orang tuanya pun berinisiatif membelikan kertas A3 lainnya dan beberapa pensil warna kecuali warna hitam, berharap sang anak menggambar bentuk lain dengan warna yang lain. Tapi tidak disangka anak itu terus saja menggambar hanya dengan warna hitam. Seluruhnya.

Orang tuanya cemas dan bermaksud untuk melaprokan hal ini pada guru sekolahnya. Sang guru justru menyarankan agar orang tuanya membawa anak tersebut ke dokter spikiater anak. Di sana, oleh dokter, anak diberi kebebasan sekali lagi untuk menggambar bebas sebagai uji tes.. Disediakanlah kertas gambar. Lagi-lagi sang anak hanya memulaskan warna hitam. Namun kali ini tidak kesemuanya berwarna hitam, ada bagian-bagian tertentu justru tidak diberi warna.

Setelah anak menghabiskan 200 lembar kertas A3 dengan hampir seluruhnya diberinya warna hitam, barulah sang anak berucap dengan bangga, “That’s wonderfull‼”. Sekali lagi, kedua orang tuanya, dokter spesialis beserta sang guru TK itu dibuatnya terkejut. Ternyata, setelah beberapa kertas-kertas itu dijejerkan bagai puzzle, terbentuklah gambar ikan paus seperti ukuran aslinya.

Begitulah kiranya sebuah kisah yang dikutip dari buku karya Salim A. Fillah yang berjudul “Jalan Cinta Para Pejuang. Sekiranya bisa mewakili gambaraan dari prasangka orang dewasa kepada anak-anak. Sangkaan orang tua dan guru yang menganggap anak itu memiliki kelainan justru sebaliknya, anak itu cerdas dan berfikir berdasarkan pengalaman yang dilihatnya. Sebenarnya, itulah kreativitas yang lebih patut untuk diapresiasi.

Seringkali apa yang kita duga tak seperti apa yang anak-anak maksud. Bisa jadi ada satu komunikasi dari mereka yang tidak mampu terjembatani. HIngga akhirya arogansi kita sebagai orang dewasa melahap keadaan.

 Mulai dari diri pribadi. Mulai saat ini. Mari kita perbaiki komunikasi dengan anak-anak kita, siswa-siswi kita. Bijaksanalah dalam menghakimi. Mari lihat lebih dekat.

 “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Tin: 4)

sumber gambar: qagoma.qld.gov.au/

Iklan

5 thoughts on “Lihat Lebih Dekat

  1. Cauchy Murtopo

    Salah satu kebahagiaan bagi seorang guru adalah bisa mengetahui perkembangan peserta didiknya. Saya sebagai guru selalu membuat catatan tentang siswa saya, tentang perkembangan maupun tentang anak yang mengalami masalah dalam belajar.

    Salah satu masalah pada anak adalah kurangnya perhatian pada orang tua dan orang tua hanya memberi uang saku atau uang jajan yang banyak. Saya sering survei terhadap anak-anak yang prestasi akademiknya kurang namun dari keluarga mampu.

    Baca informasi catatan saya pada tautan berikut ini “Jangan Terlalu Banyak Memberi Uang Saku Pada Anak” http://cauchymurtopo.wordpress.com/2013/03/29/jangan-terlalu-banyak-memberi-uang-saku-kepada-anak-kenapa/

    Balas

Selesai membaca, silahkan tulis komentar sahabat di bawah ini ↓

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s